Langsung ke konten utama

Runtuhnya Yugoslavia



Runtuhnya Yugoslavia

Menyebut nama Yugoslavia, sebagian dari kita mungkin akan langsung teringat pada sebuah negara di daerah Balkan, yakni sebelah tenggara Eropa, yang pernah ada bertahun-tahun silam. 

Yugoslavia menempati sebagian besar semenanjung Balkan , termasuk sebidang tanah di pantai timur Laut Adriatik , membentang ke selatan dari Teluk Trieste di Eropa Tengah hingga muara Bojana serta Danau Prespa di pedalaman, dan ke timur sejauh sebagai Gerbang Besi di Danube dan Midzor di Pegunungan Balkan , dengan demikian termasuk sebagian besar Eropa Tenggara , wilayah dengan sejarah konflik etnis. Yugoslavia sendiri melewai proses panjang, sebelum akhirnya ‘reinkarnasi’ menjadi Serbia Montenegro.

Yugoslavia memiliki arti tanah milik orang-orang Slavia, yang didiami oleh suku. Negara ini muncul akibat adanya kemiripan yang disadari oleh suku-suku Slavia pada tahun 1918.

Terbentuknya Negara Yugoslavia diusulkan pertama kali oleh Josip Bros Tito yang kemudian diangkat menjadi presiden tertinggi di negara tersebut. Dalam pemerintahannya, Tito menjalankan pemerintahan yang independen. Ia juga aktif dalam kegiatan Gerakan Non-Blok yang didirikan di negaranya pada tahun 1961.

Gerakan Non-Blok ini dianggap sebagai gerakan yang sangat penting oleh Yugoslavia karena dinilai dapat mempersatukan etnis atau suku yang berbeda.

Pembubaran Yugoslavia disebabkan oleh serentetan gejolak dan konflik politik pada awal tahun 1990-an. Mengikuti krisis politik pada tahun 1980-an, republik anggota dari Republik Federal Sosialis Yugoslavia terpecah belah, tetapi masalah-masalah yang tak tertangani mengakibatkan perang antaretnis Yugoslavia yang sengit. 

Model pemerintahan Yugoslavia beserta “jalan tengah” di antara ekonomi terpimpin dan liberal yang dianut merupakan sebuah keberhasilan dan negara tersebut pun mengalami masa-masa pertumbuhan ekonomi yang tinggi serta politik yang relatif stabil sampai dengan tahun 1980-an, di bawah kekuasaan handal presiden seumur hidup Josip Broz Tito. Sepeninggalnya pada tahun 1980, sistem pemerintahan federal yang melemah tidak lagi mampu menangani tantangan politik dan ekonomi yang semakin sulit.

Pada tahun 1980-an, penduduk etnis Albania di Kosovo mulai menuntut agar provinsi otonomi mereka diberi status republik anggota, dimulai dari protes pada tahun 1981. Ketegangan antara etnis Albania dan Serbia yang tidak mereda sepanjang dasawarsa, yang mana mengakibatkan penyebaran etnis Serbia ke seluruh Yugoslavia, dan sistem perundingan yang tidak efektif di tingkat federal dianggap sebagai penghambat oleh etnis Serbia yang menyaksikan semakin tingginya otonomi provinsi-provinsi di Serbia. Pada tahun 1987, Slobodan Milošević mengambil alih kepemimpinan di Serbia dan melalui serangkaian gerakan yang didukung khalayak ramai, berhasil secara de facto menguasai Kosovo, Vojvodina dan Montengro. Kebijakannya yang menggalakkan persatuan pun mendapat dukungan dari kalangan etnis Serbia. Akan tetapi, Milošević mendapat bantahan dari pemimpin-pemimpin partai di Slovenia dan Kroasia yang mendukung perluasan asas demokrasi seiring dengan melemahnya paham komunis di Eropa Timur. Pada akhirnya, Yugoslavia yang merupakan perkumpulan negara-negara berpaham komunis pun bubar pada tahun 1990.


Pada tahun 1990, partai komunis dikalahkan oleh partai-partai nasionalis dalam pemilihan umum multi-partai pertama yang diselenggarakan di seluruh negara, kecuali Serbia dan Montenegro, di mana Milošević dan sekutu-sekutunya memenangkan pemilihan umum. Hasutan nasionalis yang bersumber dari berbagai arah pun semakin memanas. Pada tahun 1991, satu demi satu republik anggota memproklamasikan kemerdekaan, kecuali Serbia dan Montengero, tetapi masalah status etnis minoritas Serbia yang berada di luar Serbia tetap tidak terselesaikan. Setelah segelintir peristiwa bentrokan antaretnis, Perang Yugoslavia pun meletus, pertama-tama di Kroasia, yang kemudian merambat dan berdampak paling parah di Bosnia dan Herzegovina. Perang Yugoslavia di Bosnia dan Herzegovina yang multi-etnis meninggalkan jejak berupa krisis politik dan ekonomi yang berkepanjangan.


Kematian Tito dan melemahnya Komunisme

Pada 4 Mei 1980, kematian Tito diumumkan melalui siaran negara di seluruh Yugoslavia. Kematiannya menghapus apa yang dilihat oleh banyak pengamat politik internasional sebagai kekuatan pemersatu utama Yugoslavia, dan kemudian ketegangan etnis mulai tumbuh di Yugoslavia. Krisis yang muncul di Yugoslavia terkait dengan melemahnya negara-negara Komunis di Eropa Timur menjelang berakhirnya Perang Dingin , yang menyebabkan jatuhnya Tembok Berlin pada tahun 1989. Di Yugoslavia, partai komunis nasional, secara resmi disebut Liga Komunis Yugoslavia , telah kehilangan potensi ideologisnya. 

Pada tahun 1986, Akademi Ilmu Pengetahuan dan Seni Serbia (SANU) memberikan kontribusi yang signifikan terhadap kebangkitan sentimen nasionalis, dengan menyusun Nota SANU yang kontroversial yang memprotes melemahnya pemerintah pusat Serbia.

Masalah di provinsi otonom Serbia SAP Kosovo antara etnis Serbia dan Albania tumbuh secara eksponensial. Hal ini, ditambah dengan masalah ekonomi di Kosovo dan Serbia secara keseluruhan, menyebabkan kebencian Serbia yang lebih besar terhadap Konstitusi 1974 . Orang Albania Kosovo mulai menuntut agar Kosovo diberi status republik konstituen mulai awal 1980-an, terutama dengan protes tahun 1981 di Kosovo . Ini dilihat oleh publik Serbia sebagai pukulan telak bagi kebanggaan Serbia karena kaitan bersejarah antara Serbia dengan Kosovo. Pemisahan itu dipandang akan menghancurkan orang-orang Serbia Kosovar. Hal ini akhirnya menyebabkan penindasan terhadap mayoritas Albania di Kosovo.

Sementara itu, republik SR Slovenia dan SR Kroasia yang lebih makmur ingin bergerak ke arah desentralisasi dan demokrasi.

Sejarawan Basil Davidson berpendapat bahwa "jalan keluar untuk 'etnisitas' sebagai penjelasan [konflik] adalah omong kosong ilmiah semu ..." Bahkan tingkat perbedaan linguistik dan agama "kurang substansial daripada yang dikatakan oleh komentator instan secara rutin kepada kita" . Di antara dua komunitas utama, Serbia dan Kroasia, Davidson berpendapat, "istilah 'pembersihan etnis' sama sekali tidak masuk akal". Davidson setuju dengan Susan Woodward , seorang ahli urusan Balkan, yang menemukan "penyebab yang memotivasi dari disintegrasi dalam keadaan ekonomi dan tekanan ganasnya".


Munculnya Nasionalisme di Serbia 

Pada tahun 1987, pejabat komunis Serbia Slobodan Milošević dikirim untuk menenangkan protes yang didorong oleh etnis oleh orang Serbia terhadap administrasi SAP Kosovo di Albania. Milošević, sampai saat ini, adalah seorang komunis garis keras yang telah mencela semua bentuk nasionalisme sebagai pengkhianatan, seperti mengutuk Memorandum SANU sebagai "tidak lain adalah nasionalisme tergelap".Namun, otonomi Kosovo selalu menjadi kebijakan yang tidak populer di Serbia, dan dia mengambil keuntungan dari situasi tersebut dan menyimpang dari netralitas komunis tradisional dalam masalah Kosovo.

Milošević meyakinkan orang Serbia bahwa penganiayaan mereka oleh etnis Albania akan dihentikan. Dia kemudian memulai kampanye melawan elit komunis yang berkuasa di SR Serbia, menuntut pengurangan otonomi Kosovo dan Vojvodina. Tindakan ini membuatnya populer di kalangan orang Serbia dan membantunya naik ke tampuk kekuasaan di Serbia. Milošević dan sekutunya mengambil agenda nasionalis yang agresif untuk menghidupkan kembali SR Serbia di Yugoslavia, menjanjikan reformasi dan perlindungan bagi semua orang Serbia.

Partai yang berkuasa di SFR Yugoslavia adalah Liga Komunis Yugoslavia (SKJ), sebuah partai politik gabungan yang terdiri dari delapan Liga Komunis dari enam republik dan dua provinsi otonom. Liga Komunis Serbia (SKS) mengatur SR Serbia. Mengendarai gelombang sentimen nasionalis dan popularitas barunya diperoleh di Kosovo, Slobodan Milošević (Ketua Liga Komunis Serbia (SKS) sejak Mei 1986) menjadi politisi paling kuat di Serbia dengan mengalahkan mantan mentornya Presiden Serbia Ivan Stambolic di Sesi ke - 8 Liga Komunis Serbia pada tanggal 22 September 1987. Pada rapat umum 1988 di Beograd, Milošević menjelaskan persepsinya tentang situasi yang dihadapi SR Serbia di Yugoslavia, dengan mengatakan:

Di dalam dan luar negeri, musuh Serbia berkumpul melawan kami. Kami berkata kepada mereka "Kami tidak takut. Kami tidak akan gentar dari pertempuran".

Slobodan Milošević, 19 November 1988.

Pada kesempatan lain, dia secara pribadi menyatakan:

Kami orang Serbia akan bertindak untuk kepentingan Serbia apakah kami melakukannya sesuai dengan konstitusi atau tidak, apakah kami melakukannya dengan mematuhi hukum atau tidak, apakah kami melakukannya sesuai dengan undang-undang partai atau tidak.

Slobodan Milošević

Konflik Bosnia

Tiap-tiap etnis mempunyai wadah politik yang berkoalisi dalam pemerintah (pemenang pemilihan umum 1990) Bosnia-Herzegovina. Namun, sejak 1991, koalisi itu mulai rontok dan tiap-tiap etnis memilih memperjuangkan kepentingan masing-masing.

Sebagaimana dinyatakan Encyclopedia Britannica, ketika Komunitas Eropa yang kelak digantikan oleh Uni Eropa mengakui kemerdekaan Kroasia dan Slovenia pada Desember 1991, Bosnia-Herzegovina mendapat kesempatan menggelar referendum.

Namun, alih-alih memperbaiki situasi, kesempatan itu malah menambah ketegangan antarkelompok etnis. Mereka punya rencana sendiri-sendiri terkait masa depan negara tersebut. Di beberapa kawasan Bosnia-Herzegovina yang mayoritas penduduknya beretnis Serb, status Daerah Otonomi Serbia diumumkan secara manasuka.

Referendum terselenggara pada 29 Februari sampai 1 Maret 1992. Sebanyak 99,7 persen pemilih menginginkan Bosnia-Herzegovina menjadi negara berdaulat. Pemerintah Bosnia-Herzegovina mengumumkan kemerdekaan dua hari kemudian. Pada 6 April 1992, pengakuan internasional bermunculan, dan negara itu menjadi anggota PBB pada 22 Mei 1992.


Tetapi orang-orang Bosnia beretnis Serb menolak kemerdekaan tersebut. Dalam referendum, hampir tak ada orang Serb yang memberikan suara. Pasukan paramiliter Serb Bosnia menyerang kota Sarajevo, dan pasukan Serbia dari tentara Yugoslavia segera ikut campur di pihak mereka.

Kota-kota dengan populasi Bosniak yang besar seperti Zvornik, Foca dan Visegard menjadi sasaran utama gempuran pasukan gabungan tersebut. Kejadian ini umum digambarkan sebagai upaya pembersihan etnis Bosniak oleh orang-orang Serb. Sekitar enam pekan setelah serangan dimulai, pasukan penyerbu telah menguasai sekitar dua pertiga wilayah Bosnia.

Pada 1994, kaum Bosniak bergabung dengan saudara seetnis dan seiman mereka di Kroasia. Koalisi ini menjaga wilayah-wilayah yang telah diumumkan oleh PBB sebagai milik Bosnia-Herzegovina. Meski begitu, ada wilayah yang aman yang luput dari jangkauan mereka, yaitu Srebrenica.

Orang-orang Serb Bosnia telah mengincar Srebrenica sejak 1992 dan hendak menjadikannya sebagai bagian Serbia. Mereka memasuki kota tersebut pada Juli 1995. Radovan Karadzic, Presiden Republika Srpska yang merujuk pada Daerah Otonom Serbia di Bosnia-Herzegovina, merancang pelbagai teror dan kerusuhan di Srebrenica. Mereka juga memberlakukan embargo pangan dan barang-barang kebutuhan sehari-hari terhadap orang-orang Bosniak.

Puncaknya ialah pembantaian. Ribuan warga sipil Bosniak dirampok, diperkosa, dan dibunuh dalam rentang tanggal 11 hingga 22 Juli 1995. Menurut United Nations International Criminal Tribunal for the former Yugoslavia, lebih dari 8.000 muslim etnis Bosnia, terutama kaum pria, dibunuh di dalam dan sekitar kota Srebrenica. Laporan Srebrenica Potocari menyatakan ada 8.373 orang yang menjadi korban genosida tersebut.


Maka Joseph Bros Tito adalah tokoh pemersatu Yugoslavia, karena beliau juga dulu berjuang melawan Nazi Jerman yang menduduk Yugoslavia saat perang dunia kedua. Beliau juga menolak ketika Joseph Stalin meminta agar Yugoslavia dijadikan negara satelit, dikarenakan cita-cita Tito adalah membuat Yugoslavia menjadi negara yang berdiri sendiri bukan menjadi negara boneka Soviet. Karena penolakan ini Stalin pun melakukan percobaan terhadap Tito namun hal itu gagal sampai Tito memberikan peringatan ke Stalin. Namun pasca wafat nya Tito maka sosok pemersatu Yugoslavia pun hilang maka muncul rasa nasionalisme di setiap provinsi, hal ini bisa menjadi pelajaran untuk bangsa kita yaitu bangsa Indonesia bahwa bila kita tdak bisa menghargai perbedaan suku, agama, dan ras maka itu akan mengancam kedaulatan nasional.

Daftar Sumber :

https://www.kelaspintar.id/blog/tips-pintar/sejarah-kontemporer-dunia-runtuhnya-yugoslavia-6660/

https://id.wikipedia.org/wiki/Pembubaran_Yugoslavia#:~:text=Pembubaran%20Yugoslavia%20disebabkan%20oleh%20serentetan,perang%20antaretnis%20Yugoslavia%20yang%20sengit.

https://tirto.id/bosnia-herzegovina-perang-dan-pengakuan-dosa-cq7y

https://en.wikipedia.org/wiki/Breakup_of_Yugoslavia

Komentar