Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2020

The Great Depression (Herbert Clark Hoover - Franklin Delano Rooselvelt)

  A.       A.  Latar Belakang Gr  The Great Depression  di negeri Paman Sam ini diawali dengan turunnya harga saham pada September 1929. Puncaknya pada 24 Oktober 1929 dilakukan penjualan saham besar-besaran dalam waktu sehari. Hal ini mengakibatkan indeks saham anjlok pada level yang mengkhawatirkan. Peristiwa ini kemudian dikenal dengan istilah  Black Tuesday.     Penjualan saham secara masif berakibat pada hilangnya kepercayaan terhadap pasar saham. Pasca jatuhnya pasar saham, daya beli menurun, investasi menyusut, dan sektor industri goyah. Efek domino lainnya jumlah pengangguran merebak bak jamur di musim hujan. Tak hanya sampai di situ saja. Banyaknya pengangguran jelas menyebabkan peningkatan jumlah kredit macet, sehingga penyitaan terhadap aset sebagai agunan kredit pun meningkat. Akibatnya, tuna wisma melajalela dan kelaparan melanda.      Great Depression  meluluhlantakkan sendi-sendi ekonomi rakyat dan ne...

Revolusi EDSA

  Munculnya revolusi EDSA merupakan respon atas diberlakukannya Hukum Darurat Militer yang menyebabkan hak berekspresi dan juga berpendapat menjadi terbatas. Media massa tidak boleh ada satupun yang mengkritik, jika ketahuan maka akan langsung ditutup oleh pemerintah. Semua harus sesuai dengan apa yang diinginankan Marcos, siapapun yang menentang, juga akan langsung ditangkap dan dipenjara.   Selama Sembilan tahun Hukum Darurat Militer tersebut berlaku, banyak masyarakat yang terus menderita. Hingga pada saat kepulangan Benigno Aquino ke Filipina, masyarakat memiliki secercah harapan. Namun, harapan itu hancur dan berubah menjadi kemarahan setelah Benigno dibunuh oleh pemerintahan Marcos.   Aksi demonstrasi di sepanjang jalan EDSA terus dilakukan bahkan saat proses pemakaman Benigno. Setelah pemakaman, demonstrasi terus dilakukan secara besar-besaran menentang Presiden Marcos. Kemudian, saat aksi besar-besaran muncullah nama Corazon Aquino yang siap menjadi oposis...

Bagaimana Viet Cong Membebaskan Saigon & AS Keok di Perang Vietnam?

  Pada Rabu, 30 April 1975, tepat hari ini 44 tahun lalu. Ia melihat sejumlah truk yang baru saja melintasinya berbalik arah kembali ke kota. Tidak ada seorang pun di ibu kota Vietnam Selatan itu yang tahu harus pergi ke mana. Pada saat bersamaan, Fenton, koresponden  Washington Post  terakhir yang masih bertahan di Saigon kala itu, mendengar suara tembakan di persimpangan jalan di dekat ia berada. Ia bersama Brian Barron dari  BBC  merasa takut, apalagi mereka telah kehilangan mobil. Beruntung ada seorang pengemudi taksi yang menawarkan untuk mengantar mereka kembali ke tengah kota, kendati dengan tarif yang melambung. Fenton tidak membuang waktu untuk menyetujuinya. Beberapa waktu setelahnya, ketika ia mencoba menuliskan peristiwa yang baru saja ia alami di kantor Reuters, Barron tiba-tiba masuk dan tampak kebingungan. “Aku tidak tahu apa yang terjadi,” tuturnya seperti dilansir Fenton dalam reportase panjang “The Fall of Saigon” yang dimuat di  Gra...

Perjuangan HR Rasuna Said

Rasuna Said lahir di Agam, Sumatera Barat, 14 September 1910. Ia adalah sosok perempuan Minang yang memiliki nama lengkap Hajjah Rangkayo Rasuna Said. Orang mengenalnya HR Rasuna Said. Sejak kecil ia sudah aktif di berbagai pengajian. Setelah lulus SD, ia meneruskan ke pondok pesantren Ar-Rasyidiyah di dekat kota kelahirannya. Rasuna Said satu-satunya santri perempuan yang mondok di pesentren tersebut. Ia sangat tertantang dan antusiasme dalam belajar ilmu agama di sini. Memasuki usia remaja, ia pindah ke sekolah agama khusus perempuan di Diniyah Putri Padang Panjang. Setelah selesai mengenyam pendidikan formalnya, ia menjadi guru Diniyah Putri Panjang. Selain pelajaran agama, ia juga memberikan materi motivasi kepada anak-anak perempuan agar memiliki cita-cita yang tinggi dan bisa lebih maju ketimbang laki-laki. Perlakuan tidak adil kepada wanita harus dilawan. Begitulah, pesan Rasuna Said terhadap kaum wanita. Namun, ia tak lama menjadi guru. Pada tahun 1930, saat usia 20 tahun...

Hubungan Palestina dan Korea Utara

  Hubungan Korea Utara dengan  Organisasi Pembebasan Palestina  dimulai pada tahun 1966.  Kim Il-sung  dan  Yasser Arafat  memiliki hubungan yang sangat dekat dan Korea Utara memberikan bantuan kepada Palestina.   Dukungan Korea Utara untuk PLO dimulai pada 1970-an dan termasuk pasokan sejumlah kecil senjata dan bantuan militer.   Senjata Korea Utara di Timur Tengah termasuk bantuan untuk beberapa faksi kiri dan gerakan revolusioner seperti PLO dan  Front Populer untuk Pembebasan Palestina  dan  Front Demokratik untuk Pembebasan Palestina  .   Senjata Korea Utara dan bantuan untuk faksi Palestina berlanjut sampai terbukanya  Cina di  bawah  Deng Xiaoping  dan reformasi politik di  Uni Soviet di  bawah  Mikhail Gorbachev  selama 1980-an. Setelah jatuhnya Uni Soviet, keterlibatan Korea Utara dalam  konflik Palestina-Israel  menurun dan Korea Utara bergeser dari ekspor ...

Ganyang Malaysia

Konfrontasi Indonesia-Malaysia atau yang lebih dikenal sebagai Konfrontasi saja adalah sebuah perang mengenai masa depan pulau Kalimantan, antara Malaysia dan Indonesia pada tahun 1962-1966. Perang ini berawal dari keinginan Malaysia untuk menggabungkan Brunei, Sabah dan Sarawak dengan Persekutuan Tanah Melayu pada tahun 1961. Keinginan itu ditentang oleh Presiden Soekarno yang menganggap Malaysia sebagai "boneka" Britania. Manila Accord "Malaysia dan Indonesia itu Negara Serumpun" begitulah apa yang sering dikatakan orang-orang tentang Hubungan Indonesia dan Malaysia. Dalam  sejarah  Hubungan kedua negara serumpun ditambah Filipina pernah mengadakan suatu konferensi. Tujuannya untuk membuat suatu konfederasi yang terdiri atas negara-negara ras melayu dan menghindari konflik diantara mereka.  Konferensi itu merupakan tindak lanjut dari pertemuan yang di inisiasi oleh Presiden Filipina kala itu, Diosdado Macapagal. Pertemuan yang berlangsung sejak 7...