Langsung ke konten utama

Sejarah Myanmar



Sejarah Myanmar atau Sejarah Birma meliputi kurun waktu sejak berdirinya pemukiman-pemukiman pertama manusia yang telah diketahui pada 13.000 tahun yang lampau sampai sekarang. Menurut catatan sejarah, para pemukim pertama di negeri ini adalah orang-orang Pyu, suku bangsa penutur bahasa Tibeto-Birma dan pemeluk agama Buddha Theravada yang mendirikan sejumlah negara kota sampai jauh ke Pyay di kawasan selatan Birma.

Suku Pyu adalah penduduk Burma paling awal yang masih ada catatannya. Selama periode ini, Burma menjadi bagian dari jalur perdagangan darat dari Cina ke India. Perdagangan dengan India membawa agama Buddha dari India Selatan . Pada abad ke-4, banyak orang di lembah Irrawaddy telah memeluk agama Buddha. Dari sekian banyak negara kota, yang terbesar dan terpenting adalah Kerajaan Sri Ksetra di sebelah tenggara Pyay modern, juga dianggap pernah menjadi ibu kota. Pada Maret 638, Pyu dari Sri Ksetra meluncurkan kalender baru yang kemudian menjadi kalender Burma.

Catatan Tiongkok abad kedelapan mengidentifikasi 18 negara bagian Pyu di seluruh lembah Irrawaddy, dan menggambarkan Pyu sebagai orang yang manusiawi dan damai yang hampir tidak dikenal perang dan yang mengenakan kapas sutra alih-alih sutra sehingga mereka tidak perlu membunuh ulat sutra . Catatan Cina juga melaporkan bahwa Pyu tahu bagaimana membuat perhitungan astronomi, dan banyak anak laki-laki Pyu memasuki kehidupan biara pada usia tujuh hingga 20 tahun.

Kerajaan-kerajaan orang Mon

Menurut hasil kajian ilmiah dari zaman penjajahan Britania, semenjak abad ke-6, suku bangsa lain yang disebut orang Mon mulai memasuki kawasan Birma Hilir dari wilayah kerajaan-kerajaan orang Mon, yakni Haripunjaya dan Dwarawati yang kini termasuk dalam wilayah negara Muangthai. Pada pertengahan abad ke-9, orang Mon sekurang-kurangnya telah berhasil mendirikan dua kerajaan kecil (atau negara kota besar) yang berpusat di sekitar Bago dan Thaton di Birma. Sumber keterangan tertua dari luar Birma mengenai keberadaan sebuah kerajaan orang Mon di kawasan Birma Hilir adalah catatan para ahli geografi Arab dari kurun waktu 844–848. Meskipun demikian, menurut hasil kajian-kajian mutakhir, tidak ada bukti (baik arkeologis maupun nonarkeologis) yang mendukung teori dari zaman penjajahan tentang keberadaan negara orang Mon di kawasan Birma Hilir sebelum akhir abad ke-13. Selain itu, catatan pertama yang mengungkap keberadaan Kerajaan Thaton baru muncul pada 1479.

Kemaharajaan Pagan (1044–1287)

Selama 30 tahun sejak naik takhta, Anawrahta membangun Kerajaan Pagan, dan untuk pertama kalinya berhasil mempersatukan daerah-daerah yang kelak membentuk wilayah negara Birma modern. Pada penghujung abad ke-12, raja-raja penerus Anawrahta telah berhasil memperluas mandala kekuasaan mereka lebih jauh lagi ke arah selatan sampai ke kawasan utara Semenanjung Malaya, ke arah timur sekurang-kurangnya sampai ke Sungai Salwin, ke arah utara sampai mendekati garis perbatasan dengan negara Tiongkok sekarang, dan ke arah barat sampai ke kawasan utara Arakan dan Perbukitan Chin. Menurut kronik-kronik Birma, seluruh Lembah Sungai Chao Phraya adalah wilayah suzerenitas Kerajaan Pagan, dan menurut kronik-kronik Siam, kawasan selatan Semenanjung Malaya sampai ke Selat Malaka juga tercakup dalam wilayah Kerajaan Pagan.

Pada permulaan abad ke-12, Kerajaan Pagan telah tumbuh menjadi sebuah kekuatan besar yang setara dengan Kemaharajaan Khmer di Asia Tenggara, serta diakui kedaulatannya oleh raja-raja wangsa Song di Tiongkok dan raja-raja wangsa Chola di India. Sampai dengan pertengahan abad ke-13, sebagian besar daratan Asia Tenggara — dalam taraf-taraf tertentu — berada di bawah kendali Kemaharajaan Pagan atau Kemaharajaan Khmer.

Anawrahta juga melakukan sejumlah karya pembaharuan penting di bidang sosial, agama, dan ekonomi yang sangat lama membekas dalam sejarah Birma. Karya pembaharuannya di bidang sosial dan agama kelak menghasilkan budaya Birma modern. Perubahan yang terpenting adalah masuknya agama Buddha Theravada di kawasan Birma Hulu sesudah Kerajaan Thaton ditaklukkan oleh Kerajaan Pagan pada 1057. Berkat dukungan kerajaan, sekolah-sekolah agama Buddha lambat laun menyebar sampai ke pelosok-pelosok pedesaan Birma dalam tiga abad berikutnya, meskipun agama Buddha Vajrayanaagama Buddha MahayanaAgama Hindu, dan kepercayaan animisme masih kokoh berakar di segenap lapisan masyarakat.

Pangkalan utama perekonomian Pagan adalah lembah pertanian Kyaukse di sebelah utara ibu kota, dan Minbu di sebelah selatan kota Pagan, tempat orang-orang Bamar mendirikan banyak tanggul baru dan menggali terusan-terusan pengalih air. Perekonomian Pagan juga memetik manfaat dari perniagaan dengan orang-orang asing melalui bandar-bandarnya di daerah pesisir. Kerajaan Pagan mendermakan kekayaannya bagi pembangunan lebih dari 10.000 kuil Buddha di lingkungan ibu kota kerajaan antara abad ke-11 sampai abad ke-13 (3000 kuil masih berdiri sampai sekarang). Orang-orang kaya mendermakan tanah bebas pajak kepada para pemuka agama.

Bahasa dan budaya Birma lambat laun menjadi bahasa utama di kawasan hulu Sungai Irawadi, menggeser bahasa dan budaya Pyu serta bahasa Pali pada penghujung abad ke-12. Kala itu, kepemimpinan orang Bamar dalam Kerajaan Pagan sudah tak dapat dipungkiri lagi. Dalam berbagai hal, orang Pyu di kawasan Birma Hulu telah menyesuaikan diri dengan adat-istiadat Bamar. Bahasa Birma, yang mula-mula adalah sebuah bahasa asing, kala itu telah menjadi lingua franca Kerajaan Pagan.

Kerajaan Pagan terpuruk pada abad ke-13 akibat semakin banyaknya tanah bebas pajak yang didermakan — pada era 1280-an, dua pertiga lahan subur di kawasan Birma Hulu telah didermakan bagi kepentingan agama, sehingga berdampak buruk bagi kemampuan kerajaan dalam mempertahankan kesetiaan para pejabat dan prajuritnya. Keadaan ini memicu kekacauan di dalam negeri dan memancing tantangan dari luar negeri, yakni serbuan-serbuan dari orang Mon, orang Monggol, dan orang Shan.

Sejak permulaan abad ke-13, orang-orang Shan mulai mengepung wilayah Kemaharajaan Pagan dari arah utara dan timur. Orang Monggol yang telah menaklukkan Yunnan, kampung halaman orang Bamar, pada 1253, mulai melancarkan serangannya pada 1277. Pada 1287, orang Moggol menjarah rayah Pagan, mengakhiri kurun waktu pemerintahan Kerajaan Pagan selama 250 tahun di kawasan Lembah Sungai Irawadi dan sekitarnya. Pemerintahan Kerajaan Pagan di kawasan Birma Tengah berakhir sepuluh tahun kemudian, ditumbangkan oleh Kerajaan Myinsaing pada 1297.

 

Penjajahan Britania

Britania menjadikan Birma sebagai salah satu provinsi dari negara India Britania pada 1886 dengan Yangon sebagai ibu kotanya. Masyarakat Birma tradisional mengalami perubahan drastis akibat lengsernya monarki serta pemisahan antara agama dan negara. Sekalipun perang secara resmi telah usai selepas berlangsung selama dua pekan, para pejuang Birma masih melakukan perlawanan di daerah Birma Utara sampai 1890, setelah pihak Britania akhirnya memutuskan untuk secara sistematis menghancurkan desa-desa dan melantik pejabat-pejabat baru untuk mengakhiri segala aktivitas gerilya. Keadaan perekonomian masyarakat juga berubah secara dramatis. Sesudah pembukaan Terusan Suez, permintaan akan beras Birma mengalami peningkatan dan lahan-lahan luas diteroka untuk ditanami. Akan tetapi, untuk membuka lahan pertanian baru, para petani terpaksa meminjam uang dari para rentenir India yang disebut cetiar dengan bunga tinggi dan sering kali mengalami penyitaan serta pengusiran yang mengakibatkan mereka kehilangan tanah dan ternak. Sebagian besar lapangan kerja juga diambil alih kuli-kuli kontrak India, dan seisi desa-desa menjadi buronan akibat beralih profesi menjadi kecu. Meskipun ekonomi Birma mengalami pertumbuhan, seluruh kekuasaan dan kemakmuran digenggam oleh segelintir perusahaan Britania, kaum peranakan Inggris, dan kaum pendatang dari India. Sebagian besar pegawai negeri sipil adalah orang-orang peranakan Inggris dan orang India, lagi pula orang-orang Bamar nyaris sepenuhnya disingkirkan dari dinas militer. Sekalipun Birma menjadi makmur, rakyatnya tidak ikut sejahtera. Novel Burmese Days karya George Orwell adalah sebuah cerita fiksi dari masa penjajahan Britania di Birma. Sepanjang masa penjajahan, kaum peranakan Inggris mendominasi Birma sehingga menimbulkan kecemburuan sosial.

Sekitar permulaan abad ke-20, sebuah organisasi pergerakan kebangsaan mulai dibentuk dengan nama Perkumpulan Pemuda Buddhis (Young Men's Buddhist Association) meniru YMCA, karena pembentukan perkumpulan-perkumpulan keagamaan diperbolehkan oleh pemerintah penjajah. Organisasi ini kelak tergantikan oleh Sidang Umum Perkumpulan-Perkumpulan Birma (General Council of Burmese Associations) yang terhubung dengan Wunthanu athin atau Perkumpulan Kebangsaan yang tumbuh subur di desa-desa di seluruh Birma Hulu. Antara 1900 – 1911 "Si Orang Buddha Irlandia", U Dhammaloka, menyuarakan penentangan terhadap Agama Kristen dan Pemerintah Penjajah dengan menggunakan dalil-dalil agama Buddha. Sebuah generasi baru pemimpin-pemimpin Birma muncul pada permulaan abad ke-20 di kalangan cendekiawan yang diizinkan berangkat ke London untuk menimba ilmu hukum. Mereka pulang dengan keyakinan bahwa keadaan Birma dapat diperbaiki melalui reformasi. Reformasi konstitusi yang progresif pada permulaan era 1920-an menghasilkan sebuah lembaga legislatur berkewenangan terbatas, sebuah universitas, dan otonomi yang lebih besar bagi Birma dalam ruang lingkup administrasi negara India Britania. Dilakukan pula upaya-upaya untuk memperbesar keterwakilan rakyat Birma dalam jawatan-jawatan pemerintah. Beberapa orang mulai merasa bahwa perubahan tidak berjalan cukup cepat dan upaya reformasi tidak cukup ekspansif.

Pada 1920, terjadi peristiwa pemogokan mahasiswa untuk pertama kalinya dalam sejarah Birma. Para mahasiswa memprotes dikeluarkannya Undang-Undang Universitas baru yang mereka yakini hanya akan menguntungkan kalangan elit dan mengekalkan kekuasaan pemerintah penjajah. 'Sekolah-sekolah kebangsaan' tumbuh marak di seluruh wilayah Birma sebagai tindakan protes terhadap sistem pendidikan penjajah, dan peristiwa pemogokan mahasiswa itu pun diperingati sebagai 'Hari Kebangsaan'. Beberapa aksi mogok lanjutan dan unjuk rasa anti-pajak juga terjadi menjelang akhir era 1920-an, dipimpin oleh Wunthanu athin. Beberapa aktivis politik terkemuka adalah biarawan Agama Buddha (pongyi), seperti U Ottama dan U Seinda di Arakan yang kelak memimpin pemberontakan bersenjata melawan pihak Britania dan juga kelak melawan pemerintah nasionalis pascakemerdekaan Birma, dan U Wisara, martir perdana gerakan kebangsaan yang tewas setelah lama menjalankan aksi mogok makan di dalam penjara] (Sebuah jalan utama di Yangon diberi nama U Wisara). Pada Desember 1930, terjadi unjuk rasa lokal menentang pajak oleh Saya San di Tarawadi dengan cepat berkembang menjadi gerakan kebangkitan yang pertama di tingkat daerah dan kelak menjadi gerakan kebangkitan nasional yang pertama melawan pemerintah penjajah. Selama dua tahun, berlangsung pemberontakan Galon (garuda) – musuh nāga, melambangkan para penjajah Britania – yang terpampang pada panji-panji para pemberontak, menyebabkan dikerahkannya ribuan pasukan Britania untuk memadamkannya diiringi janji-janji reformasi politik. Akhir nasib Saya San, yang disidang dan dieksekusi, membuka jalan bagi beberapa orang yang kelak menjadi pemimpin nasional Birma, termasuk Ba Maw dan U Saw, yang ikut serta dalam pembelaannya, untuk tampil sebagai tokoh-tokoh terkemuka.

Pada Mei 1930, didirikan Dobama Asiayone ("Perkumpulan Kami Orang Bamar"). Para anggota perkumpulan ini menyebut dirinya Thakin (sebuah julukan yang ironis karena thakin berarti "juragan" dalam bahasa Birma, kurang-lebih semakna dengan kata sahib— dijadikan sebagai bentuk pernyataan diri bahwa merekalah majikan sejati di negeri itu, para penyandang sah dari gelar thakin yang telah dirampas oleh para penjajah). Pemogokan mahasiswa kedua pada 1936 dipicu oleh tindakan pemberhentian sebagai mahasiswa terhadap Aung San dan Ko Nu, pemimpin-pemimpin Serikat Mahasiswa Universitas Yangon (Rangoon University Students Union), karena menolak untuk menyingkap nama penulis sebuah artikel dalam majalah kampus yang berisi cercaan terhadap salah seorang pejabat senior di Universitas Yangon. Pemogokan yang menyebar ke Mandalay itu mendorong terbentuknya Serikat Mahasiswa Seluruh Birma (All Burma Students Union, disingkat ABSU). Aung San dan Nu kemudian bergabung dengan gerakan Thakin dan berpindah dari gerakan mahawiswa ke gerakan politik kebangsaan. Pemerintah Imperium Britania memisahkan Birma dari India pada 1937 dan memberi negara jajahannya yang baru itu sebuah konstitusi baru yang mengatur tentang pembentukan sebuah dewan yang sepenuhnya terdiri atas orang-orang yang dipilih rakyat, akan tetapi tindakan ini justru menjadi suatu isu pemecah-belah karena segolongan rakyat Birma merasa bahwa tindakan ini adalah rencana jahat Britania untuk menyingkirkan mereka dari reformasi-reformasi yang dilakukan di India, sementara golongan lain memandang segala tindakan untuk memisahkan Birma dari kendali India sebagai langkah positif. Ba Maw menjabat sebagai Perdana Menteri Birma yang pertama, namun ia digantikan oleh U Saw pada 1939, yang menjabat sebagai perdana menteri sejak 1940 sampai ia ditangkap pada 19 Januari 1942 oleh pemerintah Birma Britania karena berkomunikasi dengan Jepang.

Gelombang pemogokan dan protes yang bermula dari ladang-ladang minyak di Birma Tengah pada 1938 berkembang menjadi pemogokan umum yang berkonsekuensi lebih luas. Di Yangon, para pelajar yang berunjuk rasa setelah berhasil memblokade pintu masuk ke Sekretariat, kantor pemerintah penjajah, diserang oleh polisi berkuda Britania bersenjata pentungan yang mengakibatkan tewasnya seorang mahasiswa Universitas Yangon bernama Aung Kyaw. Di Mandalay, polisi menembaki kerumunan pengunjuk rasa yang dipimpin oleh seorang biarawan Agama Buddha sehingga menewaskan 17 orang. Gerakan ini kelak dikenal dengan nama Htaung thoun ya byei ayeidawbon ('Revolusi 1300', dinamakan berdasarkan tahun tersebut berdasarkan perhitungan kalender Birma), dan tanggal 20 Desember, hari kematian martir perdana Aung Kyaw fell, diperingati oleh para mahasiswa sebagai 'Hari Bo Aung Kyaw'.

 

Pendudukan Jepang

Beberapa tokoh nasionalis Birma melihat meletusnya Perang Dunia II sebagai peluang untuk mendapatkan konsesi-konsesi dari Britania sebagai ganti dukungan yang akan mereka berikan kepada Britania demi memenangkan perang. Golongan-golongan lain, seperti gerakan Thakin, menentang segala bentuk keterlibatan Birma dalam perang tanpa terkecuali. Aung San ikut mendirikan Partai Komunis Birma (PKB) bersama tokoh-tokoh gerakan Thakin lainnya pada Agustus 1939. Berbagai pustaka Marxis serta traktat-traktat dari gerakan Sinn Féin di Irlandia sudah beredar dan dibaca secara luas di kalangan para aktivis politik. Aung San juga ikut mendirikan Partai Revolusioner Rakyat (PRR), pengganti Partai Sosialis sesudah Perang Dunia II. Ia juga turut berperan dalam pendirian Blok Kemerdekaan dengan mengupayakan persekutuan antara Dobama, ABSU, para biksu yang aktif di bidang politik, serta Partai Orang Miskin, partai dari Ba Maw . Setelah organisasi Dobama menyerukan pemberontakan national, Britania mengeluarkan sepucuk surat perintah penahanan terhadap sejumlah besar pimpinan organisasi itu termasuk Aung San, yang meloloskan diri ke Tiongkok. Aung San berniat untuk menjalin hubungan dengan pihak Komunis Tiongkok, akan tetapi niatnya itu terdeteksi oleh pemerintah Jepang yang kemudian mendekatinya dengan tawaran dukungan kepada dirinya dalam bentuk satuan intelijen rahasia yang disebut Minami Kikan, dikepalai oleh Kolonel Suzuki dengan tujuan menutup Jalan Raya Birma dan mendukung upaya pemberontakan nasional. Aung San sempat kembali ke Birma selama jangka waktu yang singkat untuk mengumpulkan dua puluh sembilan pemuda yang kelak berangkat bersamanya ke Jepang untuk menjalani pelatihan militer di Pulau Hainan, Tiongkok. Rombongan pemuda Birma ini kelak dikenal dengan julukan "Tiga Puluh Kamerad". Tatkala Jepang menduduki Bangkok pada Desember 1941, Aung San memaklumkan pembentukan Tentara Kemerdekaan Birma (TKB) untuk mengantisipasi invasi Jepang atas Birma pada 1942.

TKB membentuk pemerintahan darurat di beberapa wilayah Birma pada musim semi 1942, akan tetapi timbul selisih pendapat di kalangan petinggi Jepang sehubungan dengan masa depan Birma. Kolonel Suzuki memang mendorong Tiga Puluh Kamerad untuk membentuk pemerintah darurat, tetapi pimpinan militer Jepang tidak pernah secara resmi menyetujui rencana semacam itu. Tentara Jepang akhirnya beralih mendukung Ba Maw untuk membentuk sebuah pemerintahan. Selama perang pada 1942, TKB menjadi kian tak terkendali, dan di banyak distrik para pejabat bahkan pelaku kriminal menyatakan diri sebagai kelompok TKB. Organisasi ini ditata kembali menjadi Tentara Pertahanan Birma (TPB) di bawah Jepang namun tetap dikepalai oleh Aung San. Jika TKB bukan merupakan bala tentara reguler, maka TPB melaksanakan perekrutan melalui seleksi masuk serta dilatih sebagaimana pasukan-pasukan angkatan darat pada umumnya oleh instruktur-instruktur Jepang. Ba Maw kemudian dipermaklumkan sebagai kepala negara; dalam jajaran kabinetnya terdapat pula Aung San sebagai Menteri Perang, serta pemimpin Komunis Birma Thakin Than Tun sebagai menteri Tanah dan Pertanian; ada pula para pemimpin Sosialis Birma, Thakin Nu dan Thakin Mya. Ketika Jepang mempermaklumkan Birma sebagai negara merdeka, secara teori, pada 1943, TPB pun diganti namanya menjadi Tentara Nasional Birma (TNB).

Tak lama kemudian, mulai tampak jelas bahwa janji kemerdekaan dari Jepang hanyalah sebuah pepesan kosong dan Ba Maw telah teperdaya. Ketika mulai kalah dalam perang, Jepang pun menyatakan kemerdekaan Birma sebagai sebuah negara yang berdaulat penuh pada 1 Agustus 1943, tetapi tindakan ini pun hanya dilakukan untuk menyamarkan maksud Jepang yang sebenarnya. Aung San yang sudah tidak lagi mempercayai Jepang pun membuka negosiasi dengan para pemimpin Komunis, Thakin Than Tun dan Thakin Soe, serta para pemimpin Sosialis, Ba Swe and Kyaw Nyein, yang menghasilkan pembentukan Organisasi Anti-Fasis (Anti-Fascist Organisation, AFO) pada Agustus 1944 dalam suatu pertemuan rahasia yang dihadiri oleh PKB, PRR, dan TNB di Pegu. AFO kelak berganti nama menjadi Liga Kemerdekaan Rakyat Anti-Fasis (LKRAF).Thakin Than Tun dan Soe, sewaktu masih mendekam di dalam penjara Insein pada Juli 1941, bersama-sama telah menyusun Manifesto Insein yang, berlawanan dengan opini yang beredar di kalangan pergerakan Dobama, menyatakan fasisme dunia sebagai musuh utama dalam perang yang sudah di depan mata dan menyerukan kerja sama untuk sementara waktu dengan Britania dalam suatu koalisi sekutu yang selayaknya mencakup pula Uni Soviet. Soe secara diam-diam sudah mengatur barisan pertahanan untuk menghadapi pendudukan Jepang, dan Than Tun mampu meneruskan informasi intelijen Jepang kepada Soe, sementara para pemimpin komunis lainnya, Thakin Thein Pe dan Tin Shwe, menjalin kontak dengan pemerintah kolonial dalam pengasingan di Simla, India.

Ada kontak-kontak informal antara AFO dan pihak sekutu pada 1944 dan 1945 melalui organisasi Britania, Force 136. Pada 27 Maret 1945, Angkatan Darat Nasional Birmarose bangkit melakukan perlawanan terhadap Jepang di seluruh wilayah Birma. 27 Maret pernah dijadikan tanggal peringatan 'Hari Perlawanan' sampai militer mengganti namanya menjadi 'Hari Tatmadaw (Angkatan Bersenjata)'. Sesudah peristiwa itu, Aung San dan tokoh-tokoh lain pun mulai bernegosiasi dengan Lord Mountbatten dan secara resmi bergabung dengan pihak sekutu sebagai Angkatan Birma Patriotik (Patriotic Burmese Forces, PBF). Dalam pertemuan pertama, AFO memperkenalkan diri kepada pihak Britania sebagai pemerintah darurat Birma dengan Thakin Soe sebagai ketua dan Aung San sebagai seorang anggota panitia pelaksana pemerintahan. Jepang diusir dari hampir seluruh wilayah Birma pada Mei 1945. Negosiasi pun mulai dilakukan dengan pihak Britania menyangkut pelucutan senjata AFO dan keikutsertaan pasukan-pasukannya dalam Angkatan Darat Birma pascaperang. Beberapa veteran telah dibentuk menjadi sebuah barisan semi militer di bawah kepemimpinan Aung San, dengan nama Pyithu yèbaw tat atau Organisasi Sukarelawan Rakyat (People's Volunteer Organisation, disingkat PVO), dan dilatih secara terang-terangan dalam pakaian seragam. Peleburan PBF berhasil dilaksanakan pada Konferensi Kandi di Sailan pada September 1945.

Selama pendudukan Jepang, 170.000 sampai 250.000 rakyat sipil tewas.

 

Negeri Para Jendral

Aung San yang mati muda pada 19 Juli 1947 itu, di awal-awal zaman pendudukan Jepang adalah pemuda dari kelompok pemuda yang dikenal dengan sebutan Thirty Comrades. Mereka, menurut catatan Joyce Lebra dalam Tentara Gemblengan Jepang (1989), mendapat pertolongan dari kelompok intel Jepang Minami Kikan pimpinan Suzuki Keiji, sehingga dibekali pelatihan militer oleh Jepang.

“Thirty Comrades dikirim dari Tokyo ke kamp latihan khusus di dekat Pusat Latihan Angkatan Laut di Samah, Pulau Hainan,” tulis Lebra.

Pemuda-pemuda inilah yang menjadi inti dari kelahiran Tentara Kemerdekaan Burma. Semula, pada Desember 1941, ada 200 orang Burma yang direkrut di Thailand. Tentara Kemerdekaan Burma itu lalu ganti nama menjadi Tentara Pertahanan Burma dan Tentara Nasional Burma. Dengan anggota ribuan orang, tentara didikan Jepang itu masuk dalam formasi Tentara Burma alias Tentara Myanmar alias Tatmadaw. Di dalamnya ada Ne Win, alumnus Thirty Comrades, sebagai salah satu petinggi di sana.

Tentara Nasional Burma mirip dengan Tentara Sukarela Pembela Tanah Air (PETA) di Jawa atau Gyugun di Sumatera yang sama-sama didikan Jepang dan alumninya banyak yang jadi jenderal di korps ketentaraan negara. Jika Burma punya bekas didikan Jepang macam Aung San atau Ne Win, Indonesia punya Soeharto, Sudirman, Gatot Subroto, Umar Wirahadikusumah.

Setelah Aung San terbunuh, Burma dipimpin oleh orang-orang dari Anti Fascist People's Freedom League (AFPFL) alias liga rakyat merdeka anti-fasis. Sao Shwe Thaik (1948-1952), Ba U (1952-1957), dan Win Maung (1957-1962) pernah jadi presiden Burma. Di tahun 1962, Burma memasuki era baru dengan melalui sebuah kudeta—yang diotaki Jenderal Ne Win.

Seperti Aung San, Ne Win—yang beberapa tahun lebih tua dari Aung San—juga termasuk dari kelompok Thirty Comrades. Menurut Robert Taylor dalam The State in Burma (1987), Ne Win adalah “Ketua Dewan Revolusi sejak 1962 sampai 1974, Presiden sejak 1974 sampai 1981 dan sebagai Ketua Partai Program Sosialis Burma sejak kelahirannya. Ne Win menyandang status sebagai bapak bangsa Burma modern...”

Sejak 1981, posisi Presiden beralih San Yu—tapi di bawah pengaruh partai yang dipimpin Ne Win. San Yu juga jenderal dengan latar belakang Tentara Kemerdekaan Burma, tapi bukan bagian dari Thirty Comrades. Dia bergabung dalam militer sejak 1942. Jenderal yang pernah belajar kedokteran di Universitas Rangoon ini menjadi Presiden dari 9 November 1981 sampai 27 Juli 1988.

Setelah San Yu, Sein Lwin sempat menjadi presiden sebentar. Ia menjabat sejak 27 Juli 1988 hingga 12 Agustus 1988. Sein Lwin masuk militer sejak 1943, dan menjadi salah satu jenderal pengikut Ne Win. Menurut David Steinberg dalam Burma/Myanmar: What Everyone Needs to Know? (2009), ia menjadi bawahan Ne Win di Batalyon Burma Rifles ke-4 sejak 1944.

Sein Lwin digantikan sementara oleh Aye Ko selama lima hari, dari tanggal 12 hingga 19 Agustus 1988. Selama beberapa bulan berikutnya, dari 19 Agustus hingga 18 September 1988, kursi itu diduduki Dr. Maung Maung, seorang ahli hukum dan bukan militer karier. Dia menjadi presiden boneka Ne Win terakhir.

Pengaruh Ne Win dalam kepresidenan akhirnya dihabiskan ketika Dewan Pemulihan Hukum dan Ketertiban Negara alias State Law and Order Restoration Council (SLORC) berkuasa sejak 18 September 1988. Menurut David Steinberg, SLORC dipimpin oleh bekas sersan dalam Batalyon Burma Rifles ke-4 pimpinan Ne Win. Tentu ia sudah menjadi jenderal saat melakukan kudeta.

Ketika orang-orang Ne Win jadi Presiden, Saw Maung, sang bekas sersan, sudah jadi petinggi tentara. Ketika menjadi ketua SLORC, menurut Harris M. Lentz dalam Heads of States and Governments Since 1945 (2014), dia memenjarakan Aung San Suu Kyi. Saw Maung meninggal pada 23 April 1992 karena menderita gangguan fisik dan mental.

Di masa SLORC berjaya, nama Burma diubah menjadi Myanmar. Namun, para peneliti lebih suka memakai nama Burma ketimbang nama ciptaan junta militer itu. Termasuk buku Burma: The Challenge of Change in a Divided Society (1997) yang disunting Peter Carey.

“Meskipun nama negara tersebut secara resmi diubah dari Burma ke Myanmar (sering dieja Myanma atau Myanmar) oleh SLORC pada tanggal 18 Juni 1989, beberapa penulis di volume ini masih memakai nama lama, seperti sebelum Juni 1989,” demikian tertulis di pengantar buku tersebut.

Penganti Saw Maung adalah Than Shwe. Juga seorang jenderal dan sebelumnya petinggi SLORC. Dia berkuasa sejak 1992 hingga 2011. Menurut Benedict Rogers dalam Than Swhe: Unmasking Burma's Tyrant (2010), dia pernah menjadi tukang pos.

Pergantian Nama dari Burma Menjadi Jendral

Pergantian nama negara Burma menjadi Myanmar berimplikasi kepada kehidupan sosial maupun politik negara tersebut. Sejarah perubahan nama negara ini sempat menjadi polemik karena dua negara "besar" seperti Amerika Serikat dan Inggris sempat menolak mengakuinya. Lalu apa sebenarnya latar belakang perubahan nama negara Asia Tenggara tersebut? 

Mengutip laman United States Institute of Peace, pasca junta militer Myanmar menghancurkan pemberontakan pro-demokrasi pada September 1988, nama resmi negara diubah dari Uni Burma menjadi Uni Myanmar 18 Juni. Nama Uni Burma sendiri tercetus ketika negara ini berhasil merebut kemerdekannya dari Inggris pada Januari 1948. 

Pada saat yang sama, sejumlah nama tempat lainnya juga diubah. Misalnya, Kota Rangoon --yang merupakan ibu kota negara-- diubah menjadi Yangon. 

Nama baru itu telah diakui oleh mayoritas negara PBB. Namun masih ada yang masih menyebut negara ini dengan Burma, yakni AS dan Inggris. Sedangkan Australia, kadang-kadang mengambil pendekatan campuran. 

Kesimpulan :

Bahwa Myanmar memiliki beberapa kesamaan dengan Indonesia yaitu dahulu merupakan kerajaan Mon dan Kemaharajaan Pagan layaknya Indonesia yang dahulu adalah wilayah Kerajaan Sriwijaya dan Majapahit. Melihat Myanmar pasca merdeka dari Jepang, Myanmar selalu dipimpin oleh Jendral, sampai rakyat melawan junta militer 18 Juni.

Daftar Sumber :

https://id.wikipedia.org/wiki/Sejarah_Myanmar

https://tirto.id/myanmar-negara-para-jenderal-cvTG

https://voi.id/memori/7472/sejarah-pergantian-nama-negara-burma-menjadi-myanmar-yang-berimplikasi-terhadap-sosial-dan-politik


Komentar