Langsung ke konten utama

Ganyang Malaysia


Konfrontasi Indonesia-Malaysia atau yang lebih dikenal sebagai Konfrontasi saja adalah sebuah perang mengenai masa depan pulau Kalimantan, antara Malaysia dan Indonesia pada tahun 1962-1966. Perang ini berawal dari keinginan Malaysia untuk menggabungkan Brunei, Sabah dan Sarawak dengan Persekutuan Tanah Melayu pada tahun 1961. Keinginan itu ditentang oleh Presiden Soekarno yang menganggap Malaysia sebagai "boneka" Britania.

Manila Accord

"Malaysia dan Indonesia itu Negara Serumpun" begitulah apa yang sering dikatakan orang-orang tentang Hubungan Indonesia dan Malaysia. Dalam sejarah Hubungan kedua negara serumpun ditambah Filipina pernah mengadakan suatu konferensi. Tujuannya untuk membuat suatu konfederasi yang terdiri atas negara-negara ras melayu dan menghindari konflik diantara mereka. 

Konferensi itu merupakan tindak lanjut dari pertemuan yang di inisiasi oleh Presiden Filipina kala itu, Diosdado Macapagal. Pertemuan yang berlangsung sejak 7-11 Juni 1963 di Manila. Pertemuan itu diadakan untuk tingkat Menteri luar negeri.

Dalam pertemuan itu banyak membahas tentang kerjasama dan masalah Borneo Utara. Pada 30 Juli -- 5 Agustus 1963, Konferensi kemudian diadakan di Manila. Dihadiri Presiden Filipina Diasdado Macapagal, Presiden Indonesia Soekarno, dan Perdana Menteri Federasi Malaya Tunku Abdul Rahman Putra.

Koferensi tersebut kemudian dikenal sebagai Maphilindo. Sebenarnya Maphilindo merupakan konfederasi nonpolitik yang diusulkan dalam konferensi itu. Maphilindo sendiri ditujukan sebagai organisasi regional antar bangsa Melayu yang telah terpecah dan kembali bersatu.

Konferensi ini menghasilkan tiga kesepakatan yakni Manila Accord, Manila Declaration, dan Joint Statement dari ketiga negara. Kesepakatan tersebut menjadi perhatian luas ditengah ketegangan antara Indonesia dan Malaysia di tahun 1963.

Konferensi ini juga berusaha mewujudkan mimpi seorang tokoh nasionalis Filipina, Jose Rizal. Dalam novelnya Noli Me Tangere, Ia memiliki mimpi merealisasikan penyatuan bangsa Melayu yang terbagi atas koloni-koloni barat. Hal yang sama juga pernah diusulkan Muhammad Yamin, Pahlawan Nasional dari Indonesia.

Sebagai bukti dalam Manila Accord yang ditandatangani 31 Juli 1963 terdapat pernyataan :

"In the same spirit of common and constructive endeavour, they exchanged views on the proposed Confederation of nations of Malay origin, the proposed Federation of Malaysia, the Philippine claim to North Borneo and related problems."

Dalam Bahasa Indonesia :

"Dalam semangat yang sama dari upaya bersama dan konstruktif, mereka bertukar pandangan tentang usulan Konfederasi negara-negara asli Melayu, usulan Federasi Malaysia, klaim Filipina untuk Kalimantan Utara dan masalah terkait."

Pernyataan tersebut menandakan terdapat usulan pembetukan suatu konfederasi negara-negara. Sebuah langkah bersejarah dalam mewujudkan keterikatan antar bangsa Melayu. Sebelumnya telah terpecah belah akibat kolonisasi bangsa barat. 

Pernyataan itu kemudian ditekankan di bagian The Macapagal Plan yang merupakan rencana presiden Macapagal dalam membentuk suatu kelompok kerjasama antarnegara. Namun, semua rencana tersebut tidak dapat terwujud.

Selain Manila Accord terdapat pula sebuah konsesus bersama yang disepakati bernama Manila Declaration atau Deklarasi Manila. Deklarasi ini berisi pernyataan antara Indonesia, Filipina dan Malaysia. Dalam komitmennya mematuhi prinsip-prinsip kesetaraan hak dan penentuan nasib sendiri yang didasarkan pada piagam PBB, mewujudkan kerjasama diantara tiga negara tersebut, melawan kolonialisme dan imperialisme, menjadikan ketiga negara ini sebagai kekuatan baru, serta mendirikan Maphilindo.

Kemudian dalam Jurnal yang ditulis Sutamat Arybowo berjudul Kebijakaan Pembangunan "Sijori" dan Dampaknya dalam Kebudayaan, tertulis "Para presiden dari ketiga negara tersebut mengumumkan Deklarasi Manila yang menggabungkan negara mereka ke dalam Maphilindo."

Meski begitu, pertemuan tiga kepala pemerintahan dan kesepakatan itu menjadi pertemuan terakhir antara Indonesia dan Malaysia. Yang selajutnya meletus konflik antar kedua negara, dikenal sebagai Konfrontasi.

Latar Belakang Konfrontasi

Federasi Malaysia terdiri dari Malaya, Brunei, Sabah, Serawak, dan Singapura.

Pembentukan Federasi Malaysia yang merupakan penggabungan dari negara-negara bekas jajahan Inggris-pun didukung oleh Inggris.

Pembentukan Federasi Malaysia mengalami problematika karena beberapa pihak ada yang setuju maupun tidak setuju atas pembentukan federasi tersebut.

Indonesia dan Filipina menjadi negara yang tidak setuju atas pembentukan Federasi Malaysia.

Pemerintah Filipina tidak setuju atas pembentukan Federasi Malaysia karena tuntutan Sultan Sulu dari Kasultanan Sulu atas wilayah Sabah yang masuk pada Federasi Malaysia.

Sultan Sulu dari Filipina mengklaim bahwa wilayah Sabah merupakan daerah kekuasaan dari Kasultanan Sulu.

Awalnya gara-gara akan dibangunnya Federasi Malaysia yang diprotes Indonesia

Konfrontasi Indonesia-Malaysia 

Soekarno yang murka karena hal itu mengutuk tindakan Tunku yang menginjak-injak lambang negara Indonesia dan ingin melakukan balas dendam dengan melancarkan gerakan yang terkenal dengan sebutan "Ganyang Malaysia" kepada negara Federasi Malaysia yang telah sangat menghina Indonesia dan presiden Indonesia. Perang Pada 20 Januari 1963, Menteri Luar Negeri Indonesia Soebandrio mengumumkan bahwa Indonesia mengambil sikap bermusuhan terhadap Malaysia. Pada 12 April, sukarelawan Indonesia (sepertinya pasukan militer tidak resmi) mulai memasuki Sarawak dan Sabah untuk menyebar propaganda dan melaksanakan penyerangan dan sabotase. Pada 27 Juli, Sukarno mengumumkan bahwa dia akan meng-"ganyang Malaysia". Pada 16 Agustus, pasukan dari Rejimen Askar Melayu DiRaja berhadapan dengan lima puluh gerilyawan Indonesia. Meskipun Filipina tidak turut serta dalam perang, mereka memutuskan hubungan diplomatik dengan Malaysia. Federasi Malaysia resmi dibentuk pada 16 September 1963. Brunei menolak bergabung dan Singapura keluar di kemudian hari. Ketegangan berkembang di kedua belah pihak Selat Malaka. Dua hari kemudian para kerusuhan membakar kedutaan Britania di Jakarta. Beberapa ratus perusuh merebut kedutaan Singapura di Jakarta dan juga rumah diplomat Singapura. Di Malaysia, agen Indonesia ditangkap dan massa menyerang kedutaan Indonesia di Kuala Lumpur. Di sepanjang perbatasan di Kalimantan, terjadi peperangan perbatasan; pasukan Indonesia dan pasukan tak resminya mencoba menduduki Sarawak dan Sabah, dengan tanpa hasil. Pada 1964 pasukan Indonesia mulai menyerang wilayah di Semenanjung Malaya. Di bulan Agustus, enam belas agen bersenjata Indonesia ditangkap di Johor. Aktivitas Angkatan Bersenjata Indonesia di perbatasan juga meningkat. Tentera Laut DiRaja Malaysia mengerahkan pasukannya untuk mempertahankan Malaysia. Tentera Malaysia hanya sedikit saja yang diturunkan dan harus bergantung pada pos perbatasan dan pengawasan unit komando. Misi utama mereka adalah untuk mencegah masuknya pasukan Indonesia ke Malaysia. Sebagian besar pihak yang terlibat konflik senjata dengan Indonesia adalah Inggris dan Australia, terutama Special Air Service. Pada 17 Agustus pasukan terjun payung mendarat di pantai barat daya Johor dan mencoba membentuk pasukan gerilya. Pada 2 September 1964 pasukan terjun payung didaratkan di Labis, Johor. Pada 29 Oktober, 52 tentara mendarat di Pontian di perbatasan Johor-Malaka dan ditangkap oleh pasukan Rejimen Askar Melayu Di Raja. Ketika PBB menerima Malaysia sebagai anggota tidak tetap. Sukarno menarik Indonesia dari PBB pada tanggal 20 Januari 1965 dan mencoba membentuk Konferensi Kekuatan Baru (Conference of New Emerging Forces, Conefo) sebagai alternatif. Sebagai tandingan Olimpiade, Soekarno bahkan menyelenggarakan GANEFO (Games of the New Emerging Forces) yang diselenggarakan di Senayan, Jakarta pada 10-22 November 1963. Pesta olahraga ini diikuti oleh 2.250 atlet dari 48 negara di Asia, Afrika, Eropa dan Amerika Selatan, serta diliput sekitar 500 wartawan asing. Pada Januari 1965, Australia setuju untuk mengirimkan pasukan ke Kalimantan setelah menerima banyak permintaan dari Malaysia. Pasukan Australia menurunkan 3 Resimen Kerajaan Australia dan Resimen Australian Special Air Service. Ada sekitar empat belas ribu pasukan Inggris dan Persemakmuran di Australia pada saat itu. Secara resmi, pasukan Inggris dan Australia tidak dapat mengikuti penyerang melalu perbatasan Indonesia. Tetapi, unit seperti Special Air Service, baik Inggris maupun Australia, masuk secara rahasia (lihat Operasi Claret). Australia mengakui penerobosan ini pada 1996. Pada pertengahan 1965, Indonesia mulai menggunakan pasukan resminya. Pada 28 Juni, mereka menyeberangi perbatasan masuk ke timur Pulau Sebatik dekat Tawau, Sabah dan berhadapan dengan Regimen Askar Melayu Di Raja.

Akhir Konfrontasi dengan Malaysia

Persetujuan Bangkok

Di bawah Soeharto, hubungan Indonesia-Malaysia diperbaiki. Dikutip dari Sejarah Diplomasi di Indonesia (2018), pemerintah Indonesia berunding dengan Malaysia. Dari 28 Mei hingga 1 Juni 1966, Menteri Luar Negeri Malaysia Tun Abdul Razak bertemu dengan Menteri Luar Negeri Indonesia Adam Malik di Bangkok, Thailand. Pertemuan itu menghasilkan Persetujuan Bangkok. Beberapa hal pokok yang disepakati dalam persetujuan itu yakni: Rakyat Sabah dan Sarawak akan mendapat kesempatan untuk memilih kedudukan mereka di Malaysia Malaysia dan Indonesia setuju memulihkan hubungan diplomatik Mengakhiri tindakan permusuhan

Normalisasi hubungan Indonesia-Malaysia

Setelah Persetujuan Bangkok, hubungan Indonesia-Malaysia berangsur membaik. Persetujuan Bangkok ditindaklanjuti dengan ditandatanganinya persetujuan normalisasi hubungan Malaysia-Indonesia pada 11 Agustus 1966. Pada 31 Agustus 1967 Indonesia dan Malaysia kembali membuka hubungan diplomatik tingkat kedutaan besar setelah setahun sebelumnya diputus. Kemudian pada 7 September 1967, kedua Menteri Luar Negeri resmi membuka kembali hubungan politik.

Kesimpulan : Bahwa konfrontrasi Indonesia-Malaysia dikarenakan PM Malaysia Tunku Abdul Rahman membatalkan perjanjian Manila Agreement. Maka dari itu muncul kemarahan dari Soekarno dan Filipina. Dan kalo dilihat dari masa sebelum penjajahan 3 negara ini sering melakukan hubungan perdagangan namun karena datangnya penjajah menjadi terdapat batas wilayah negara. Dan Manila Agreement lah yang membuat seluruh rumpun melayu bersatu. Namun gara-gara konfrontasi lah menjadi gagal isi dari Manila Agreement.

Daftar Sumber :

https://www.facebook.com/notes/moehammad-hidaijat/sejarah-ganyang-malaysia-asal-mula-latar-belakang/413368548763475/

https://www.kompasiana.com/mnshidqi/5f275146097f3674f35fb112/manila-accord-dan-mimpi-konfederasi-melayu?page=all

https://manado.tribunnews.com/2020/06/12/13-juni-1964-sejarah-konfrontasi-indonesia-malaysia-konflik-ini-berbuntut-indonesia-keluar-dari-pbb?page=4

https://www.kompas.com/skola/read/2020/03/06/184500369/berakhirnya-konfrontasi-indonesia-malaysia?page=all

Komentar