Langsung ke konten utama

Revolusi EDSA

 


Munculnya revolusi EDSA merupakan respon atas diberlakukannya Hukum Darurat Militer yang menyebabkan hak berekspresi dan juga berpendapat menjadi terbatas. Media massa tidak boleh ada satupun yang mengkritik, jika ketahuan maka akan langsung ditutup oleh pemerintah. Semua harus sesuai dengan apa yang diinginankan Marcos, siapapun yang menentang, juga akan langsung ditangkap dan dipenjara.

 

Selama Sembilan tahun Hukum Darurat Militer tersebut berlaku, banyak masyarakat yang terus menderita. Hingga pada saat kepulangan Benigno Aquino ke Filipina, masyarakat memiliki secercah harapan. Namun, harapan itu hancur dan berubah menjadi kemarahan setelah Benigno dibunuh oleh pemerintahan Marcos.

 

Aksi demonstrasi di sepanjang jalan EDSA terus dilakukan bahkan saat proses pemakaman Benigno. Setelah pemakaman, demonstrasi terus dilakukan secara besar-besaran menentang Presiden Marcos. Kemudian, saat aksi besar-besaran muncullah nama Corazon Aquino yang siap menjadi oposisi. Corazon terus mengecam dan menuntut keadilan atas penculikan dan pembunuhan terhadap politisi-politisi oposisi. Seorang wanita pemberani ini adalah istri dari mendiang Benigno Aquino.

 

Situasi terus memburuk, masyarakat terus mengecam tindakan-tindakan Presiden Marcos, serta menuntut keadilan bagi orang-orang yang ditahan dan dibunuh. Karena kondisi itu, Marcos memutuskan untuk mengadakan pemilihan presiden pada Februari 1986. Kali ini yang dihadapi oleh Marcos adalah Corazon, seorang wanita pemberani yang didukung oleh banyak pihak.

 

Lalu siapakah pemenangnya? Jawabannya adalah Ferdinand Marcos, ia kembali memenangkan pemilihan presiden. Akan tetapi, ada yang janggal dalam kemenangannya nih Squad. Marcos telah mengganti 30 anggota KPU dengan orang-orang suruhannya pada saat proses penghitungan suara, kemudian ia juga menghilangkan hak pilih sebagian masyarakat, dan yang paling parah lagi sampai membunuh Gubernur Evelio Javier, seorang pendukung atau sekutu utama Corazon Aquino.

 

Serangkaian kecurangan dan kekejaman yang dilakukan oleh Marcos, menimbulkan kemarahan yang besar di masyarakat. Berbagai pihak mulai menyerukan tuntutannya agar Ferdinand Marcos melepas jabatannya sebagai Presiden.

 

Corazon Aquino menjadi yang paling vocal menyerukan aksi demonstrasi menuntut turunnya pelepasan jabatan Marcos. Corazon mendapat dukungan dari seorang pastor Gereja katolik Filipina yang bernama Kardinal Jaime Sin. Kardinal Sin menyerukan seluruh umatnya untuk mendukung Corazon dengan ikut turun ke jalan EDSA dan membantunya menghentikan kezaliman Presiden Marcos.

 

Bahkan bukan hanya seorang pastor, Menteri Pertahanan Juan Ponce Enrille, tentara-tentara pemerintahan Marcos, juga Wakil Staf AB Jenderal Fidel Ramos turut mendukung Corazon Aquino. Akhirnya, jutaan orang dalam gerakan people power atau aksi damai tak berdarah itu menjadi salah satu rangkaian revolusi EDSA yang berhasil menurunkan Ferdinand Marcos dari jabatan Presiden Filipina, tepat pada 25 Februari 1986. Ferdinand kemudian pergi mengungsi bersama keluarga dan sekutunya ke Hawai, Amerika Serikat.

Daftar Sumber :

https://id.wikipedia.org/wiki/Revolusi_EDSA

https://pamflet.or.id/artikel/edsa-revolution-people-power-dan-peran-gereja/

https://blog.ruangguru.com/sejarah-kelas-12-latar-belakang-lahirnya-revolusi-edsa-gerakan-people-power-filipina


Komentar