Apa yang kita pikirkan saat
mendengarkan kata Sumatera? Tentu kita sebagai masyarakat Indonesia melihat
adalah pulau terpanjang di Indonesia, yang terdapat Sembilan provinsi di pulau
tersebut. Sumatera dapat dikatakan jalur perdagangan internasional apalagi
memiliki selat Melaka yang sangat penting bagi perdagangan jalur sutera. Dahulu
Sumatera ramai dikunjungi oleh banyak pedagang dari seluruh dunia yang ingin
bedagangan di nusantara maupun pedagang yang singgah untuk menuju Tiongkok. Baik
pedagang Tionghoa, Arab, India, Persia, dll singgah di sumatera. Terjadi banyak
interaksi antara penduduk lokal dan juga para pendatang, maka dari itu
terjadilah beberapa akulturasi kebudayaan yang terjadi di Sumatera.
Dahulu wilayah Sumatera dan semenanjung
Malaya sangat dekat sekali, banyak warga Malaya yang menuju ke Aceh, Indragiri
untuk melakukan perdagangan begitu pula dengan masyarakat Sumatera masa itu
banyak sekali yang menuju ke Malaya untuk berdagang baik itu menuju Malaka atau
Johor. Hal ini membuat kita sadar bahwa hubungan kita dengan negara yang
sekarang disebut Malaysia itu sangat dekat. “Dahulu orang Malaka berdagang ke
Aceh dan orang Riau berdagang ke Johor, itu terjadi biasa saja, bedanya dengan
sekarang mereka harus menggunakan paspor” kata Mahathir Mohammad mantan PM
Malaysia yang ke-4 dan ke-7. Pernyataan dari bapak Mahathir menyadarkan saya,
bahwa kita sebagai bangsa serumpun dahulu memiliki hubungan yang sangat dekat,
bahkan memiliki kesamaan rumpun yaitu rumpun melayu.
Akan tetapi, kita berbeda saat para
penjajah eropa datang. Mereka membatasi dua negara serumpun dengan batas
wilayah. Terjadinya Anglo Dutch Treaty
1814 membuat wilayah Indonesia dan Malaysia terpisah sama seperti kita saat
ini. Setelah perjanjian tersebut setiap negara mengurusi masalah negeri mereka
masing-masing karena dijajah oleh negara eropa yang berbeda.
Akhirnya muncul lah pergerakan
nasional yang terjadi dalam Hindia Belanda(Indoneisa) muncul organisasi
pergerakan nasional yang anti penjajahan seperti Sarekat Islam, Muhammadiyah,
PNI, PKI dll. Begitu pula terjadi di Malaysia terjadi pula gerakan nasional
dengan mendirikan KMM (Kesatuan Melayu Muda) yang dipimpin oleh Ibrahim Yacoob.
Ibrahim Yacoob sendiri setuju bila wilayah Malaya masuk ke dalam wilayah Indonesia
karena memiliki beberapa kesamaan hal.
Tibalah saat nya Jepang datang
untuk melakukan perang Asia Timur Raya tentunya menuju Malaya dan juga Hindia
Belanda. Pada saat itulah Ibrahim Yacoob dan Soekarno dipertemukan oleh Jepang
untuk membahas tentang kemerdekaan yang dijanjikan oleh Jepang. Ibrahim Yacoob
sendiri juga merupakan anggota BPUPKI. Namun, saat kota Hiroshima dan Nagasaki
di Bom oleh sekutu Jepang menyerah dan pada tanggal 17 Agustus 1945 Soekarno
dan Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Di Malaya Inggris sudah masuk
ke dalam wilayah tersebut, tetapi dalam hal ini masyarakat Malaya mayoritas
masih pro-Indonesia dan tetap ingin memasukan wilayah nya ke dalam wilayah
Indonesia.
Dikarenakan banyak kalangan
bangsawan di kesultanan Sumatera tidak mendukung Republik, masyarakat kecewa
dengan sikap para bangsawan yang lebih pro ke Belanda. Kenapa bangsawan pada
saat itu lebih mendukung Belanda daripada pemerintah Republik dikarenakan
mereka sudah menjadi pegawai Belanda, mereka takut apabila mereka mendukung
republik mereka tidak lgi mendapatkan fasilitas dari Belanda. Maka dari itu lah
masyarakat Sumatera Timur banyak yang sudah muak dengan bangsawan-bangsawan
yang mendukung penjajah di tanahnya sendiri. Maka itu lah terjadi revolusi sosial.
Terjadi pembunuhan, penyiksaan dll
terhadap kalangan bangsawan di Sumatera Timur. Masyarakat Malaya masih sangat
kental dengan elite bangsawan kesultanan mereka, melihat tindakan masyarakat
Sumatera Timur sangat khawatir apabila terjadi hal yang serupa di Malaka. Karena
masyarakat Malaka tersebut khawatir apabila hal yang serupa terjadi bila
bergabung dengan Indonesia. Melihat hal ini Inggris pun mengambil kesempatan
untuk memberikan kemerdekaan Malaya dengan tidak menghilangkan kesultanan
malaka tentunya masyarakat Malaya lebih setuju dengan gagasan yang diberikan
Inggris karena itu lah Malaya merdeka pada 31 Agustus 1957.
Sumber :
https://historia.id/politik/articles/pulihnya-kekuasaan-melayu-DWebk/page/1
Komentar
Posting Komentar