Langsung ke konten utama

Negeri Sembilan : Minangkabau di Negeri Jiran

    Negeri Sembilan merupakan salah satu negara bagian Federasi Malaysia yang terletak di Semenanjung Malaya. Wilayah ini berbatasan dengan Selangor di Utara, Melaka di Selatan, Pahang di Timur. 

        Mulai masuknya orang Minangkabau ke Negeri Sembilan dimulai sejak masa Kerajaan Sriwijaya. Dikala Kerajaan Sriwijaya terus berkembang dan bertumbuh maka hal itu dilanjutkan dengan Kerajaan Pagaruyuang pada abad ke-14. Ditandai dengan adanya pernikahan antara Putri Ambun Suri, yang merupakan anak dari Tuan Gadih Indo Juita, dengan Raja Malaka (Semenanjung). Menurut Asmaniar Z Idris, dalam tulisannya berjudul Kerajaan Pagaruyuang di buku Menelusuri Sejarah Minangkabau (1970), Negeri Sembilan mengirimkan utusan ke Kerajaan Pagaruyuang, yang bertujuan agar Pagaruyuang mengirim seorang raja untuk Negeri Sembilan. 

        Pengiriman utusan ini terjadi pada abad ke-18. Akhirnya Kerajaan Pagaruyuang menunjuk Raja Malewar (1773 – 1795) agar menjadi Yang Dipertuan Negeri Sembilan, mewakili Raja Pagaruyuang/Minangkabau. Hubungan Pagaruyuang dan Negeri Sembilan mulai agak merenggang setelah terjadinya pergolakan antara Belanda dan Inggris akhir abad 19. Dikala Negeri Sembilan dalam pengaruh Inggris dan Pagaruyuang berada pada pengaruh Belanda. Hubungan hanya sekedar hubungan administrasi territorial saja. 

    Untuk masalah kebudayaan, memiliki memori yang kuat antar keduanya. Terdapat kesamaan dalam kebudayaan, seperti pakaian adat, bentuk rumah adat, upacara adat, pola keturunan dari garis ibu, musik, warna kebesaran, serta makanan seperti rendang. Karena itu banyak masyarakat beranggapan bahwa masyarakat Negeri Sembilan adalah orang Minangkabau. 

    Peneliti Universitas Tokyo Jepang, Kato Tsuyoshi, mengatakan terdapat perbedaan dari nama-nama suku di Negeri Sembilan, Malaysia, dengan nama-nama suku di Minangkabau, Indonesia. 

    "Masyarakat Minang terkenal dengan budaya merantau, dan salah satu wilayah yang menjadi daerah rantaunya adalah Negeri Sembilan yang ada di Malaysia," katanya dalam kuliah umum di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas Padang seperti dilansir Antara. Setelah dilakukan perbandingan terhadap beberapa sistem pada masyarakat di Negeri Sembilan ternyata terdapat beberapa perbedaan dengan kebudayaan Minang, salah satunya adalah dari nama-nama suku. Tsuyoshi mengatakan pada tahun 1972-1973, Minangkabau sebagai daerah tertua dan penduduk paling ramai dengan komposisi tercatat memiliki 96 nama suku. 

    Sepuluh suku terbesar di Minangkabau berdasarkan penyebaran geografi adalah Chaniago, Melayu, Piliang, Tanjuang, Koto, Jambak, Sikumbang, Mandahiling, Pitopang, dan Guci. Sementara di Negeri Sembilan terdapat lebih kurang 13 suku, sementara beberapa nama suku tersebut merupakan nama-nama daerah di Minangkabau. 

    Suku-suku di Negeri Sembilan, lanjutnya, meliputi Biduanda, Tanah Datar, Seri Lemak Pahang, Seri Lemak Minangkabau, Payakumbuh, Seri Melenggang, Tiga Batu, Tiga Nenek, Mungkal, Batu Belang Batu Hampar, Anak Aceh, dan Anak Melaka. Dari suku-suku tersebut terdapat kesamaan nama beberapa daerah di Minangkabau. Peneliti menganggap masyarakat di Negeri Sembilan bernenek moyang orang Minang.

Daftar Pustaka :

Komentar