Robert Mugabe dapat dikatakan sebagai Perdana Menteri kulit hitam pertama yang ada di Zimbabwe. Dimana beliau mengalahkan sang pesaing yaitu, Joshua Nkomo. Sebelumnya, Perdana Menteri yang terdapat di Zimbabwe selalu diduduki oleh masyarakat kulit putih. Maskipun minoritas, penduduk ras kulit putih mendominasi ekonomi dan pemerintahan dari negara terserbut.
Mugabe sendiri terpilih menjadi Perdana Menteri tahun 1980 hingga 1987. Setelah itu, pada Desember 1987, Mugabe memutuskan untuk merubah konstitusi Zimbabwe dari parlementer menjadi presidensil. Sementara itu Presiden bukan lagi jabatan yang ceremonial, tetapi menjadi bagian dari eksekutif. Mugabe sendiri memimpin Persatuan Nasional Afrika Zimbabwe, Front Patriotik, yaitu sebuah partai sosialis yang berdiri pada tahun 1987. Ia dan partainya adalah kaum sayap kiri, mendukung upaya pemberhentian perampasan tanah dari orang kulit putih Zimbabwe dan mengklaim bahwa hal itu adalah bagian dari imperialis masa lalu.
Pada tahun 1964 ia dijatuhi hukuman 10 tahun penjara karena pidatonya dianggap menyinggung pemerintah Rhodesia (Nama negara Zimbabwe sebelum di bawah kepemimpinan Robert Mugabe). Setelah dibebaskan, pada tahun 1979 ia melarikan diri ke Mozambik untuk melancarkan perang gerilya untuk kemerdekaan. Lalu, ia kembali ke Rhodesia dan menjadi perdana menteri setahun kemudian. Negara baru yang telah merdeka itu kemudian berganti nama menjadi Zimbabwe. Berbagai pengorbanan dan kerja keras yang dilakukan Robert Mugabe membuat dirinya mampu mengubah sejarah di negara itu.
Satu dolar Amerika Serikat (USD) memang pernah menyentuh angka 35 kuadriliun dolar Zimbabwe (ZMR). Pada 2009, dolar Zimbabwe akhirnya tidak lagi digunakan dan transaksi dalam negeri dilakukan dengan dolar AS. Akar masalah inflasi muncul ketika Mugabe tidak bisa mengelola negerinya dengan baik selama 37 tahun berkuasa. Kelangkaan bahan pangan menciptakan pasar gelap yang menjual barang dengan harga yang jauh lebih tinggi. Masyarakat tidak punya pilihan di tengah produksi pangan yang terbatas. Selain masalah minimnya produksi pangan, sebagaimana ditulis dalam studi Lionel Nkomazana dan Ferdinand Niyimbanira bertajuk "An Overview of the Economic Causes and Effects of Dollarisation: Case of Zimbabwe" (2014), Zimbabwe juga terlilit utang yang luar biasa besar. Solusi pemerintah: mencetak uang terus-menerus hingga Zimbabwe dilanda hiperinflasi. “Mengeluarkan uang lebih banyak juga menjadi solusi pemerintah untuk membayar gaji pegawai negeri sipil. Hasilnya, nilai tukar Zimbabwe jatuh,” tulis Nkomazana dan Niyimbanira. Sejak itulah suara rakyat Zimbabwe menentang Mugabe makin keras terdengar. Padahal, banyak orang menyangka, Mugabe akan menjadi pemimpin yang demokratis, dengan membiarkan orang lain sebagai pemimpin, bukan dirinya sendiri, apalagi selama 37 tahun.
Daftar Pustaka :
Komentar
Posting Komentar