Pada tanggal 25 Oktober 1944, selama Pertempuran Teluk Leyte, Jepang mengerahkan pembom bunuh diri yang dikenal dengan istilah 'kamikaze' ke kapal perang Amerika Serikat untuk pertama kalinya. Ini akan terbukti mahal – bagi kedua belah pihak.
Keputusan untuk mempekerjakan pembom bunuh diri terhadap armada Amerika di Leyte, sebuah pulau di Filipina, didasarkan pada kegagalan pertempuran laut dan udara konvensional untuk menghentikan serangan Amerika, demikian seperti dikutip dari History, Minggu (25/10/2020).
Pernyataan Kapten Angkatan Laut Jepang Motoharu Okamura: "Saya sangat yakin bahwa satu-satunya cara untuk mengayunkan perang demi kami adalah dengan menggunakan serangan crash-dive dengan pesawat kami…. Akan ada lebih dari cukup sukarelawan untuk kesempatan ini menyelamatkan negara kita."
Pasukan kamikaze pertama sebenarnya terdiri dari 24 pilot sukarelawan dari Grup Udara Angkatan Laut 201 Jepang.
Sasarannya adalah rombongan pengawal kapal induk AS.
Satu kapal, St. Lo, ditabrak oleh pesawat tempur A6M Zero Jepang dan tenggelam dalam waktu kurang dari satu jam, menewaskan 100 orang Amerika. Lebih dari 5.000 pilot kamikaze tewas dalam pertempuran teluk yang menjatuhkan 34 kapal.
Untuk serangan kamikaze mereka, Jepang menggunakan pesawat konvensional dan pesawat yang dirancang khusus, yang disebut Ohka ("bunga sakura") oleh Jepang.
Kamikaze yang Mengerikan untuk Lawan
Pengambilan nama kamikaze merujuk pada angin yang menyelamatkan armada Jepang dari pasukan Mongol pimpinan Kubilai Khan. Angin “ilahi" tersebut mengamankan bala pasukan Jepang tak cuma sekali, tapi hingga dua kali. Saking kuatnya mitos dan legenda ini di telinga masyarakat, membuat pimpinan militer Jepang mengambil sebagai identitas pasukan khusus yang diharapkan mampu memenangkan Perang Dunia II.
Proses pembentukan pasukan khusus kamikaze tak bisa dilepaskan dari dua hal: cadangan tentara yang semakin menipis serta posisi Jepang yang kian terdesak sekutu. Pada 1943, militer Jepang mengenalkan sistem rekrutmen kadet ke seluruh perguruan tinggi untuk mengatasi kurangnya jumlah personel tentara.
Dengan membawa materi propaganda nasionalisme dan dalih wujud kesetiaan kepada Sang Kaisar, militer sukses menarik minat para pemuda Jepang yang rata-rata masih berusia di bawah 25 tahun. Total, ada 15.149 yang diterima dari seleksi ini.
Alasan mereka bersedia bergabung dengan kamikaze adalah: percaya bahwa kematian dilakukan untuk mempertahankan negara dan rakyat Jepang, anggapan mati untuk negara adalah wujud membahagiakan orang tua terutama ibu, solidaritas terhadap rekan pilot yang lain, takut dianggap pengecut karena menolak bergabung dalam kamikaze.
Setelah pasukan terkumpul, bukan berarti masalah terselesaikan.
Problem selanjutnya ialah mencari taktik agar Jepang tak jadi bulan-bulanan sekutu. Berbagai opsi pun disediakan. Sayangnya, perundingan sering deadlock tanpa menghasilkan keputusan apa-apa. Sampai akhirnya, Wakil Laksamana Takijiro Onishi melempar ide liar: membentuk “pasukan bunuh diri."
Ide ini walaupun disetujui atasannya, tak luput dari kritik dan penolakan. Kapten Motoharu Okamura, misalnya, menganggap resiko program tersebut sangat besar. Lalu, Komandan Letnan Goro Nanaka sedari awal menegaskan peluang kesuksesan misi kamikaze sangat kecil. Tak hanya itu, sebagian veteran komandan lapangan merasa kamikaze adalah pemborosan aset.
Meski tidak populer dan ditolak sana-sini, kamikaze tetap jalan. Kamikaze pertama kali digunakan pada 25 Oktober 1944, tepat hari ini 76 tahun lalu, dalam Pertempuran Teluk Leyte (Battle of Leyte Gulf) di Samudra Pasifik dekat Filipina. Komandan skuadron kamikaze Motoharu Okamura mengatakan, “Saya benar-benar percaya bahwa satu-satunya cara ialah [melakukan] serangan dengan menabrakkan pesawat kita. Tak ada cara lain. Berikan saya 300 pesawat dan saya akan mengubah perang."
Pertempuran Teluk Leyte mengakibatkan lebih dari 3.000 pilot Jepang terbunuh. Akan tetapi serangan kamikaze telah menyebabkan kerusakan pada banyak kapal Amerika serta menyebabkan sekitar 7.000 pasukan sekutu tewas. Meski kalah dalam pertempuran ini, metode kamikaze dianggap berhasil dan digunakan militer Jepang pada pertarungan berikutnya.
Kejadian di Leyte terulang juga di Okinawa pada 6 April 1945. Pasukan kamikaze Jepang menyerbu Amerika dari segala penjuru secara intens. Bom dijatuhkan, pesawat ditabrakkan tanpa ampun kepada sarang Abang Sam. Efek dari serangan tersebut membuat kepercayaan diri Amerika turun drastis di samping 9 kapal tenggelam serta 78 lainnya rusak-rusak akibat gempuran kamikaze.
Pertanyaannya: apakah keberhasilan kamikaze di pertempuran Okinawa mengubah peta Perang Dunia II? Ternyata tidak. Pada 15 Agustus 1945, Kaisar Hirohito mengumumkan akhir peperangan Jepang. Dengan kata lain: Jepang menyerah kepada sekutu. Keputusan Hirohito diambil usai dua kota di Jepang, Hiroshima dan Nagasaki dihancurkan bom atom yang dijatuhkan pesawat Amerika. Kalahnya Jepang pada Perang Dunia II otomatis menghentikan aksi pasukan kamikaze.
Mengenai menyerahnya Jepang atas sekutu itu, penggagas kamikaze, Takijiro Onishi berpendapat: “Saya tidak kalah dalam peperangan ini, melainkan Kaisar [Hirohito]."
Diperkirakan sekitar 2.550 penerbangan serangan bunuh diri kamikaze dilakukan dari 25 Oktober 1944 sampai berakhirnya perang 15 Agustus 1945. Sebanyak 363 serangan kamikaze menemui sasaran atau nyaris mengenai tetapi tetap menimbulkan kerusakan pada kapal yang diserang.
Daftar Sumber :
https://www.liputan6.com/global/read/4390482/25-10-1944-jepang-kirim-pasukan-kamikaze-pertamanya-pada-perang-dunia-ii
https://tirto.id/sejarah-bunuh-diri-ala-kamikaze-aksi-patriotik-atau-terorisme-cBAU
Komentar
Posting Komentar