Langsung ke konten utama

Sejarah Diplomatik Indonesia dan Perancis



Hubungan tidak langsung antara Prancis dan Indonesia dimulai pada awal abad ke-19 pada masa kolonial Hindia Belanda. Selama Perang Napoleon negeri Belanda jatuh di bawah Kekaisaran Prancis, dengan demikian maka tanah jajahan mereka di Hindia Timur juga secara tak langsung jatuh ke tangan Prancis. Selama periode yang singkat antara 1806-1811, Indonesia atau Nusantara sempat berada di bawah kekuasaan Prancis.] Selama pemerintahan Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels (1808-1811), Prancis menerapkan pengaruh politiknya di Hindia Timur melalui perantara Republik Belanda. Daendels adalah seorang Belanda pengagum Prancis, dan selama pemerintahannya di Jawa ia membangun istana megah dikenal sebagai Het White Huis (Gedung Putih) atau Het Groote Huis (Gedung Besar), hari ini gedung ini difungsikan sebagai Kantor Kementerian Keuangan Indonesia, yang menunjukkan pengaruh arsitektur Gaya Imperium Prancis. Ia juga mengganti nama Buffelsveld (lapangan banteng) menjadi Champs de Mars (kini Medan Merdeka). Pertempuran memperebutkan Jawa terjadi antara Inggris melawan gabungan Republik Belanda dan Prancis disebut Perang Inggris-Belanda yang pecah pada tahun 1811.

Revolusi Prancis dan bentuk pemerintahan Republik kemudian menginspirasi gerakan nasionalis Indonesia pada awal abad ke-20. Konsep politik Republik Indonesia sedikit banyak dipengaruhi oleh model Republik Prancis. Indonesia juga mengadopsi sistem hukum Kontinental Napoleon melalui perantara Belanda. Hukum Indonesia sering digambarkan sebagai bagian dari 'hukum sipil' atau kelompok hukum 'Kontinental'; sistem hukum yang lazim ditemukan di negara-negara Eropa seperti Prancis dan Belanda. 

 

Diplomatik Masa Orde Lama

Saya belum menemukan secara pasti pada tahun berapa Perancis mengakui kemerdekaan Indonesia, yang pasti negara yang memiliki Menara Eiffel itu mengakui Indonesia setelah penyerahan kedaulatan Indonesia dari Belanda, pasca KMB diantara tahun 1950an. Ketika masa Orde lama terdapat kisah yang unik antara Presiden Soekarno Dan Presiden Charles De Gaulle. Presiden Sukarno pernah punya pengalaman tidak mengenakan dengan Charles de Gaulle. Beredar rumor bahwa Presiden Prancis itu benci kepada Bung Karno. Dengan alasan tertentu, de Gaulle cenderung bersikap sinis terhadap Sukarno.

 “Suatu kali saya mengetahui bahwa de Gaulle tidak senang kepada saya,” ujar Sukarno kepada penulis otobiografinya Cindy Adams dalam Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia. Charles André Joseph Marie de Gaulle merupakan Presiden Prancis yang memerintah pada periode 1959--1969.

Antipati de Gaulle, menurut Sigit Aris Prasetyo dalam Dunia dalam Genggaman Bung Karno bermula karena Sukarno dianggap merecoki kepentingan Prancis di wilayah jajahan. Seperti diketahui, Sukarno begitu aktif menyokong perjuangan koloni Prancis untuk merdeka dari penjahahan, macam Aljazair di Afrika atau Vietnam, Laos, dan Kamboja di Indocina. Selain itu, Gaulle mencap Sukarno sebagai pemimpin Asia  yang doyan perempuan cantik. Istilah Prancisnya, “Le Grand Seducteur” atau sang perayu agung.

Dalam otobiografinya, Sukarno menyebut perjumpaan pertama dengan de Gaulle terjadi di  Wina, Austria. Sekira tahun 1961, Sukarno berkunjung ke Austria dalam suatu lawatan sekaligus berobat. Di saat yang sama ada de Gaulle di sana. Sebagai orang yang lebih muda, Sukarno yang mendatangi de Gaulle lebih dahulu.

Pertemuan itu menjadi berkesan sebab de Gaulle tidak menyangka kalau Sukarno fasih berbahasa Prancis. Mereka pun saling berbincang dalam bahasa Prancis tanpa penerjemah. Lagi-lagi de Gaulle takjub dengan lawan bicaranya. Sukarno yang di masa mudanya melahap pemikiran pemikir-pemikir Prancis abad pencerahan ternyata paham betul sejarah revolusi Prancis yang disebut “La grande revolution”. De Gaulle yang tadinya benci Sukarno berangsur-angsur mulai simpati.

Menurut Sigit, de Gaulle memang beralasan untuk mengaggumi Sukarno. Dalam bukunya, Sigit mengutip cerita menarik saat berlangsungnya percakapan antara de Gaulle dan Sukarno. Cara Sukarno menghadapi de Gaulle membuktikan kejeniusannya dalam berdiplomasi.  

“Presiden Sukarno, mengapa Anda selalu tidak bisa berteman dengan Prancis,” tanya de Gaulle. Pertanyaan itu merujuk kepada sikap Indonesia yang gigih membantu perjuangan kemerdekaan Aljazair. Tapi, pertanyaan itu dibalas dengan cerdik oleh Sukarno. Katanya, “Tuan Charles de Gaulle, kami melakukan ini sesuai dengan ajaran revolusi Prancis, yaitu Liberte, Egalite, Fraternite (Kebebasan, Persamaan, Persaudaraan).”

“Mendengar jawaban tersebut, Charles de Gaulle hanya manggut-manggut tanda mengiyakan,” tulis Sigit.

Perjumpaan itu merupakan awal yang baik bagi hubungan Sukarno dan de Gaulle selanjutnya. Sebab, Sukarno menjalin beberapa pertemuan lagi dengan de Gaulle dikemudian hari. Pada bulan Juni 1963, Sukarno melakukan kunjungan ke Paris dan bertemu de Gaulle. Sukarno mengunjungi Paris lagi pada 20 Oktober 1964. Kunjungan terakhir Sukarno ke Prancis berlangsung pada Juli 1965. Pada 1 Juli 1965, pesawat Sukarno mendarat di bandar udara Paris setelah lawatan di Kairo, Mesir mempersiapkan KTT Asia-Afrika II. Presiden de Gaulle kembali menyambut Sukarno di Istana Elysee.

De Gaulle sendiri dalam pemerintahannya menjadikan Prancis sebagai negara Barat yang berpandangan moderat. Dia melakukan sejumlah terobosan penting bagi negara dunia ketiga. Pada 1962, misalnya Prancis memberikan hak referendum bagi Aljazair yang kemudian memilih untuk merdeka. De Gaulle juga bersedia “mengusir” markas NATO dari Paris ke Brussel di Belgia dan itu tentu saja  mengejutkan blok Barat. Pada saat negara Eropa lainnya ogah memandang Tiongkok, De Gaulle malah membuka hubungan diplomatik dengan Tiongkok.

Sukarno mengapresiasi kebijakan de Gaulle itu sebagai langkah yang luar biasa. Dia menyebut de Gaulle berani tampil beda di luar kebiasaan.

Diplomatik Saat Orde Baru

Kunjungan Presiden Soeharto ke Perancis saat ini sangat tepat waktunya dimana pertukaran pikiran antara kedua belah pihak akan merupakan landasan yang kuat untuk memperkokoh hubungan dan kerja sarna Indonesia-Perancis.

Demikian dinyatakan oleh Duta Besar Perancis untuk Indonesia Pierre Gorce dalam wawancara khusus dengan wartawan “Antara” Jumat malam. Dubes Gorce mengatakan “Saya yakin bahwa masalah2 yang dikemukakan oleh Presiden Soeharto dalam pertukaran pikiran nanti, lebih dimengerti dan dapat sambutan simpatik dari pihak Perancis”.

Presiden Soeharto dan rombongannya, menurut rencana akan tiba di Paris, ibu kota Perancis pada tanggal 13 Nopember sebagai negara pertama dalam kunjungan ke Eropah nanti.

Dubes Gorce menyatakan juga rasa kegembiraanya karena Presiden Soeharto akan memenuhi undangan Presiden Pompidou yang telah disampaikan sebelumnya oleh almarhum Presiden de Gaulle.

Tetapi karena situasi didalam negeri Perancis sendiri ketika itu, maka rencana yang sudah lama ini baru sekarang dapat dilakukan Namun demikian kata Dubes Perancis, kunjungan tsb saatnya dianggap sangat tepat, karena selain sehubungan dengan masalah2 bilateral mengenai kepentingan kedua negara, juga kunjungan itu dilakukan ditengah sengketa Vietnam, Laos dan Kamboja sekarang ini sedang berada diambang pintu penyelesaian.

Disamping itu untuk Perancis sendiri tahun 1972 ini lebih banyak mengenai lagi berbagai aspek di Indonesia khususnya dibidang ekonomi sejak Orde Baru lahir.

Indonesia Pegang Peranan Penting

Menurut Dubes Perancis, Indonesia karena posisinya, Potensi ekonominya dan jumlah manusianja memegang peranan penting untuk perdamaian di Asia. Peranan itu merupakan dorongan jang baik terhadap perkembangan2 ekonomi dan sosial untuk perdamaian didaerah ini.

Diplomatik Masa Reformasi

Presiden Keenam Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono pernah mengadakan kunjungan resmi ke Perancis dan melakukan pertemuan Bilateral dengan Presiden Nicholas Sarkozy pada 14 Desember 2009 lalu. Kesepakatan kemitraan kemudian berfokus pada konsolidasi kerja sama bilateral di bidang politik dan keamanan masalah, ekonomi, pembangunan, pendidikan dan kebudayaan, dan meningkatkan pertukaran antara masyarakat sipil.

Giliran kunjungan Perdana Menteri François Fillon ke Jakarta pada bulan Juli 2011. Keduanya menyepakati Deklarasi Bersama mengenai kemitraan Strategis Indonesia – Perancis yang memprioritaskan lima pilar kerja sama, yaitu perdagangan dan investasi, pendidikan, industri pertahanan, kebudayaan dan pariwisata, serta pengurangan dampak perubahan iklim.

Namun, dari sederet hubungan Indonesia Perancis yang sudah terjalin pasca kemerdekaan, bukan tanpa gesekan. Presiden Francois Hollande yang akan melawat ke Indonesia pernah memperingatkan keras Indonesia terkait hukuman mati yang dijatuhkan kepada warganya bernama Serge Atlaoui pada 2015 karena kepemilikan berbagai jenis narkotika.

Dalam bantahannya, Atlaoui menyebut kedatangannya di sebuah pabrik di Tangerang pada 2005 silam untuk memasang mesin industri di pabrik akrilik. Atlaoui sendiri akhirnya terhindar dari eksekusi yang sedianya dilakukan tanggal 29 April 2015.Perancis sangat menentang hukuman mati dalam konteks apapun dan telah menghapus hukuman mati dari kitab hukumnya sejak tahun 1981. 

Dan Hubungan Diplomatik Indonesia dan Perancis terus berlanjut, sampai masa Presiden Joko Widodo dan Presiden Emmanuel Macron. Terdapat hal yang membuat Indonesia mengecam Perancis yaitu pembuatan karikatur Nabi Muhammad SAW oleh majalah Charlie Hebdo. Menurut Perancis hal itu adalah sebuah hal yang biasa karena itu merupakan kebebasan berpendapat, namun bagi masyarakat Indonesia terutama yang beragama Islam hal itu sesuatu yang salah, kebebasan berpendapat bukan berarti tanpa aturan. Apabila manusia berada di dunia ini tanpa aturan  maka dunia ini menjadi kacau. Boleh bila kita menginginkan kebebasan namun kebebasan harus ada batas dan aturan yang tegas dari pemerintah.

Kesimpulan : Hubungan Diplomatik Indonesia dengan Perancis mengalami pasang surut, sejak awal kemerdekaan Indonesia mulai dari ketidaksukaan Perancis terhadap Indonesia karena mendukung kemerdekaan Indonesia. Dan sikap Indonesia yang anti Blok Barat pdahal Perancis sendiri adlah salah satu negara Blok Barat. Berlanjut kerja sama dibidang Ekonomi, Sosial, Budaya dan Pendidikan. Banyak dibukanya sekolah berbahasa Perancis banyak juga beasiswa ke Perancis untuk mahasiswa dari Indonesia. Hingga sekarang pun juga masih berlanjut dengan Baik.

Daftar Sumber :

https://id.wikipedia.org/wiki/Hubungan_Indonesia_dengan_Prancis#:~:text=Hubungan%20Indonesia%20dengan%20Prancis%20adalah,Republik%20Indonesia%20dengan%20Republik%20Prancis.&text=Sejak%202011%2C%20tepat%20pada%20masa,sepakat%20untuk%20menjalin%20kemitraan%20strategis.

https://tirto.id/perancis-dan-indonesia-dalam-lintasan-sejarah-cj8Z

https://soeharto.co/dubes-perancis-pierre-gorce-kunjungan-presiden-soeharto-sangat-tepat-waktunya/

https://historia.id/politik/articles/ujung-perseteruan-sukarno-dengan-presiden-prancis-P1oRg/page/3

https://soeharto.co/presiden-soeharto-ke-senegal-dan-perancis/

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Geografis Laut Mediterania

Laut Mediterania merupakan laut yang menghubungkan antara benua Eropa, Asia, dan juga Afrika. Laut Mediterania atau yang biasa disebut sebagai Laut Tengah ini juga berhubungan dengan Samudera Atlantik dihubungkan dengan Selat Giblartar (Jabal Thariq). Oleh bangsa Roma, Laut Mediterania disebut sebagai mare nostrum (laut kita), dan laut ini juga hampir seluruhnya dikurung oleh daratan. Laut Mediterania memiliki posisi yang sangat strategis, bahkan secara politik-ekonomi Laut Mediterania menjadi posisi yang sangat penting menjadi outlet (tempat perdagangan) maritim dunia. Bila kita melihat ke arah dalam laut tersebut, menjorok jazirah-jazirah seperti Apenina, Balkan, dan Anatolia, yang sekarang merupakan wilayah Italia, Yunani, dan Turki. Karena adanya jazirah-jazirah tersebut, maka terbentuk pula laut-laut tepi dengan sendirinya, seperti Laut Adriatik, Laut Yonia, dan Laut Hitam, dalam setiap laut tersebut terdapat berbagai pulau besar dan kecil yang menjadi jembatan antar ...

Hubungan Antara Soekarno dan Buya Hamka

  Bung Karno dan Buya Hamka sudah menjalani persahabatan yang cukup lama. Persahabatan mereka juga memiliki pasang surut terkadang baik dan terkadang juga buruk. Mereka bertengkar dikarenakan perbedaan pendapat antara mereka. Hamka pernah mengunjungi Bung Karno di Bengkulu saat diasingkan ke daerah tersebut pada 1938-1942. Bung Karno dan Hamka juga pernah bertemu di beberapa acara Muhammadiyah, maklum Hamka dikenal sebagai salah satu tokoh organisasi itu, sementara Bung Karno sejak remaja memang bersinggungan dengan Muhammadiyah. Dikutip dari buku "Ensiklopedia Keislaman Bung Karno" karya Rahmat Sahid disebutkan bahwa Bung Karno acap kali mengundang sahabatnya itu untuk berceramah di Istana Negara dalam rangka memperingati hari besar keagamaan. Bahkan, Rahmat Sahid menuliskan dalam buku tersebut, Bung Karno sendiri yang mengajak Hamka untuk Hijrah dari Medan ke Ibukota Jakarta pada 1946. Ajakan itu sempat tertunda karena adanyanya Agresi Pertama pada 1947. Namun kemudi...

Luka Modric, Penentu Kemenangan Kroasia vs Polandia

Source : Pinterest Kroasia berhasil membalas 1-2 dari Portugal ketika laga pembuka UEFA Nations League beberapa hari sebelumnya. Pada matchday kedua, menghadapi timnas Polandia, Luka Modric dkk tidak menyia-nyiakan kesempatan.  Pertandingan berlangsung di Opus Arena, Osijek, pada 9 September 2024 dini hari WIB, Kroasia menang 1-0 atas Polandia. Luka Modric menjadi pahlawan Kroasia dengan mencetak gol tunggal menit ke-52.  Pada laga tersebut, Kroasia mendominasi sejak awal. Bruno Petkovic dan Igor Matanovic, menjadi penyerang, memberikan tekanan pada pertahanan Polandia.  Keseluruhan, Kroasia melakukan 22 upaya tembakan ke gawang, enam di antaranya tepat sasaran. Pada lain sisi, Polandia hanya dapat melakukan 11 tembakan, dan dua yang mengarah ke gawang. Meskipun agresif, Kroasia kesulitan mencetak gol di babak pertama.  Pertahanan solid Polandia dippimpin Lukasz Skorupski membuat tuan rumah frustasi, sehingga skor tetap imbang 0-0 hingga jeda pertandingan.  Keti...