Sumpah Pemuda adalah satu tonggak utama dalam sejarah pergerakan kemerdekaan indonesia. Ikrar ini dianggap sebagai kristalisasi semangat untuk menegaskan cita-cita berdirinya negara Indonesia.
Yang dimaksud dengan "Sumpah Pemuda" adalah keputusan Kongres Pemuda Kedua yang diselenggarakan dua hari, 27-28 Oktober 1928 di Batavia (Jakarta). Keputusan ini menegaskan cita-cita akan ada "tanah air Indonesia", "bangsa Indonesia", dan "bahasa Indonesia". Keputusan ini juga diharapkan menjadi asas bagi setiap "perkumpulan kebangsaan Indonesia" dan agar "disiarkan dalam berbagai surat kabar dan dibacakan di muka rapat perkumpulan-perkumpulan".
Organisasi pemuda
Sebelum lahirnya Sumpah Pemuda,
sudah mulai bermunculan organisasi pemuda seperti Perhimpunan Indonesia pada
1908, lalu Tri Koro Darmo pada 1915. Dikutip Harian Kompas, 22 November 1977,
sebelum 28 Oktober 1928, para pemuda masih terpecah dalam beberapa organisasi
kedaerahan seperti Jong Java, Jong Sumatra, dan lain-lain. Pada saat
memeringati 5 tahun Jong Sumatranen Bond pada 1921, Mohamad Yamin menerbitkan
sebuah buku kumpulan sajak yang berjudul Tanahair. Namun saat itu yang dimaksud
Tanah Air oleh Yamin adalah Andalas, Sumatera. Belum termasuk Indonesia. Dalam
masa enam tahun, tumbuh berbagai kesadaran baru di kalangan pemuda, karena
musuh yang dihadapi mereka sama, yaitu Belanda. Kesadaran itulah yang
menyebabkan mereka berusaha menggalang persatuan dalam sebuah kesadaran baru.
Pada 1926 diselenggarakan Kongres Indonesia Muda yang pertama (Kongres Pemuda
I). Bahkan pada tahun itu pun kesadaran itu belum cukup untuk melahirkan sebuah
sumpah pemuda.
Tionghoa Dalam Sumpah Pemuda
Sie Kong
Liong pernah diusulkan mendapatkan penghargaan. “Ada informasi tambahan dari
Remy Silado (sastrawan, red.),
salah satu peserta Sumpah Pemuda Jo Masdani dari Minahasa mengusulkan pada
Sukarno pada 1959 supaya memberikan penghargaan pada Sie Kong Liong,” kata Didi
Kwartanada, sejarawan yang menekuni sejarah Tionghoa, ketika ditemui di
kantornya, Yayasan Nabil, Jakarta.
Selain Sie
Kong Liong, empat pemuda peranakan Tionghoa juga menghadiri Kongres Pemuda II.
Kwee Thiam Hong anggota Jong Sumatranen Bond (JSB) kelahiran Palembang. Pelajar
Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) berusia belasan itu mengajak sahabatnya
Oey Kay Siang, John Liauw Tjoan Hok, dan Tjio Djin Kwie. Mereka aktif sebagai
anggota kepanduan.
Sebagai
anggota kepanduan, kata Didi, selain mengajarkan keterampilan di luar ruangan,
mereka juga biasanya mengajarkan semangat nasionalisme dan patriotisme.
“Sayangnya, mereka hanya tercatat nama saja. Bagaimana riwayatnya sekarang,
keluarganya di mana belum ada yang menemukan,” ujar Didi.
Namun,
menurut Didi, berdasarkan wawancara Kwee dengan Kompas 25
Oktober 1978, tak ada yang memandang aneh keterlibatan Kwee dan teman-temannya.
Dia yang kemudian berganti nama menjadi Daud Budiman merasa tidak melihat ada
yang kurang senang dengan adanya pemuda etnis Tionghoa.
“Keterlibatannya
dalam nasionalisme Indonesia ini dipengaruhi oleh pidato H.O.S Tjokroaminoto dan
Sukarno,” kata Didi.
Di luar
Kongres Pemuda II, suratkabar berbahasa Melayu-Tionghoa, Sin Po, yang pertama kali memuat lagu Indonesia Raya karya Wage Rudolf Supratman. Lagu
dan notasi Indonesia Raya muncul
di mingguan itu pada edisi No. 293 tanggal 10 November 1928.
Kwee Kek
Beng, pemimpin redaksi Sin Po, menyebutkan
hubungan pemimpin pergerakan Indonesia dengan pers Tionghoa, terutama Sin Po, memang sangat baik. “Bukan cuma kebetulan
bahwa lagu kebangsaan Indonesia
Raya yang dikarang dan dibikin lagu oleh tuan Wage Rudolf
Soepratman dimuat pertama kali bersama notnya dalam weekblad Sin
Po.”
Perempuan Dalam Sumpah Pemuda
NONA
POERNOMOWULAN naik ke atas mimbar sebagai pembicara pertama dalam Kongres
Pemuda II. Sebagai guru yang aktif dalam pendidikan dan pembinaan pemuda, dia
membacakan prasarannya bahwa usaha mencerdaskan bangsa haruslah disertai usaha
menciptakan suasana tertib dan disiplin dalam pendidikan.
Setelah
Poernomowulan, Sarmidi Mangunsarkoro, tokoh pendidikan, juga membacakan
prasarannya tentang pendidikan. Dari kesaksian Wage Rudolf Supratman,
Poernomowulan dan Sarmidi hadir sebagai pembicara utama dalam kongres tersebut.
Ketika acara memasuki pandangan umum, cukup banyak hadirin yang menyambut
dengan semangat juga menanggapi prasaran dari para pembicara.
Tak hanya
Nona Poernomowulan, perempuan yang hadir dalam kongres yang melahirkan Sumpah
Pemuda itu antara lain Siti Sundari, Emma Poeradiredja, Suwarni Pringgodigdo,
Johanna Masdani Tumbuan, Dien Pantouw, dan Nona Tumbel. Dari 10 perempuan yang
hadir, tujuh di antaranya bisa ditelusuri. Total hadirin 750 orang dan hanya 75
orang yang namanya tercatat. “Para pemudi yang hadir lebih banyak dibanding
ketika kongres pemuda Indonesia pertama 1926,” tulis Bambang Sularto dalam Wage Rudolf Supratman.
Para
perempuan yang hadir dalam Kongres Pemuda II aktif dalam pergerakan.
Poernomowulan aktif dalam Jong Java. Siti Sundari, adik dr. Sutomo, aktif dalam
gerakan dan menerbitkan Wanita Sworo. Majalah berbahasa dan aksara Jawa ini terbit di
Pacitan pada 1912. Sementara Emma Poeradiredja aktif dalam Jong Java, Jong
Islaminten Bond, dan mendirikan Istri Pasundan.
Suwarni
Pringgodigdo dikenal sebagai pendiri gerakan Istri Sedar. Pasca Indonesia
merdeka, dia menjadi anggota DPR. Ketika Kongres Pemuda, Johanna Masdani
Tumbuan berusia 18 tahun, kemudian aktif dalam perjuangan kemerdekaan. Dia
menerima beberapa penghargaan dari era Sukarno hingga Habibie: medali Sewindu
Angkatan Perang Republik Indonesia (1953), Bintang Satya Gerilya (1958),
Bintang Satya Lencana Penegak (1967), Bintang Mahaputera Utama (1998), dan
beberapa penghargaan lain.
Sementara
Dien Pantouw merupakan istri dari Sunario Sastrowardoyo. Keduanya pertama kali
bertemu saat Kongres Pemuda II dan beberapa waktu setelahnya saling berkirim
surat sampai akhirnya menikah. Sedangkan Nona Tumbel adalah anggota Jong
Celebes.
Organisasi Mahasiswa Dalam Sumpah Pemuda
ORGANISASI
mahasiswa yang beperan penting dalam pelaksanaan Kongres Pemuda I (1926) dan II
(1928) adalah Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI). Ia didirikan oleh
mahasiswa RHS (Sekolah Tinggi Hukum) dan Stovia (Sekolah Tinggi Kedokteran) di
Batavia, serta THC (Sekolah Tinggi Tekhnik) di Bandung. Pendirinya antara lain
Soegondo Djojopoespito, Sigit, dan Soewirjo. Didirikan pada 1925, PPPI baru
diresmikan pada September 1926.
“PPPI
satu-satunya perkumpulan mahasiswa di Batavia yang anggotanya semuanya adalah
mahasiswa yang beraliran nasionalis,” kata anggota PPPI, Ide Anak Agung Gde
Agung, dalam memoarnya, Kenangan Masa
Lampau. “Di dalam perkumpulan mahasiswa ini, masalah nasionalisme,
kolonialisme, dan perjuangan kebangsaan dibicarakan secara serius dan tidak ada
waktu dan kesempatan bagi para anggota perhimpunan ini untuk berfoya-foya atau
mengadakan pesta-pesta.”
PPPI, disebut
dalam 45 Tahun Sumpah Pemuda, mengusahakan persatuan
Indonesia dan ini berarti PPPI berpolitik dan “PPPI bukan merupakan korps
mahasiswa Indonesia yang mau bersenang-senang saja. PPPI harus berjuang untuk
kemerdekaan tanah air. Di samping berjuang, anggota-anggotanya harus tetap
rajin belajar agar mendapatkan ilmu yang diperlukan buat perjuangan.”
Berdirinya Jong Islamietend Bond
Sam seorang
anak penghulu Karanganyar adalah seorang pemuda Jawa yang berpikiran maju, ia
juga anggota Jong
Java yang menjadi pelajar pada Rechtsschool (Sekolah
Tinggi Hukum). Pada tahun 1924 ia menjadi Ketua Umum Jong Java melalui
pemilihan yang demokratis, ia memiliki pemikiran tentang tugas yang ia kerjakan
dalam masyarakat bagi kepentingan bangsa. Pada umumnya azas dan tujuan
organisasi pemuda terpelajar disusun dengan kalimat singkat. Menyiapkan para
anggotanya menjadi pemimpin rakyat. Tentang hal ini, Sam memiliki gagasan yang
berbeda yaitu : Sebagian besar bangsa Indonesia beragama Islam, setidaknya
menjadi jiwa dari rakyat. Terlepas apapun agama sang pemimpin maka ia patut
mengetahui agama rakyat yang dipimpin.
Sebagai Ketua
Umum Sam mengajukan usul yang sederhana : Agar dikalangan Jong Java dibuka
kesempatan mempelajari agama Islam. Andaikata usul itu ditambah dengan
agama-agama lain, Sam tidak akan keberatan. Ia mengusulkan agama Islam karena
merupakan mayoritas. Usul ini tidak diterima bahkan ditolak mentah-mentah
dengan tuduhan Sam bermain politik.
Sam tetap merasa bahwa mempelajari agama Islam bagi pemuda Islam
terpelajar adalah sangat penting. Ia menghubungi Kiai Ahmad Dahlan dan Haji
Agus Salim yang kemudian merestui. Maka pada akhir tahun 1924 disebuah Sekolah
Muhammadiyah di Yogyakarta berbekal dengan lampu tempel, organisasi-organisasi
pemuda mengadakan kongres membentuk sebuah organisasi, Jong Islamieten Bond. Meskipun
secara resmi didirikan di Jakarta pada tanggal 1 Januari 1925. Jong Islamieten
Bond juga ikut serta dalam kegiatan sumpah pemuda.
Kesimpulan :
Sumpah Pemuda
adalah momen bersatu pemuda-pemuda dari seluruh Hindia Belanda. Sehingga bisa
menghasilkan nama Indonesia seperti sekarang ini. Dahulu yang berjuang dengan
menggunakan peperangan secara Fisik dan bersifat kedaerahan semenjak sumpah
pemuda para pemuda-pemudi Indonesia bersatu dan Bersama-sama melawan Belanda dari
latar belakang suku, ras, dan agama apapun tanpa membeda-bedakan. Yang
terpenting hanyalah persatuan Indonesia untuk memerdekakan diri dari penjajah.
Daftar Sumber :
https://id.wikipedia.org/wiki/Sumpah_Pemuda
https://historia.id/politik/articles/organisasi-mahasiswa-di-balik-sumpah-pemuda-vVemk/page/1
https://tengkuputeh.com/2017/10/24/sejarah-jong-islamieten-bond/
https://historia.id/politik/articles/tionghoa-dalam-sumpah-pemuda-D8ebm/page/1
https://historia.id/politik/articles/perempuan-dalam-kongres-pemuda-6l7R1/page/1
Komentar
Posting Komentar