Langsung ke konten utama

The Great Depression (Herbert Clark Hoover - Franklin Delano Rooselvelt)

 


A.     A. Latar Belakang

Gr  The Great Depression di negeri Paman Sam ini diawali dengan turunnya harga saham pada September 1929. Puncaknya pada 24 Oktober 1929 dilakukan penjualan saham besar-besaran dalam waktu sehari. Hal ini mengakibatkan indeks saham anjlok pada level yang mengkhawatirkan. Peristiwa ini kemudian dikenal dengan istilah Black Tuesday.

   Penjualan saham secara masif berakibat pada hilangnya kepercayaan terhadap pasar saham. Pasca jatuhnya pasar saham, daya beli menurun, investasi menyusut, dan sektor industri goyah. Efek domino lainnya jumlah pengangguran merebak bak jamur di musim hujan. Tak hanya sampai di situ saja. Banyaknya pengangguran jelas menyebabkan peningkatan jumlah kredit macet, sehingga penyitaan terhadap aset sebagai agunan kredit pun meningkat. Akibatnya, tuna wisma melajalela dan kelaparan melanda.

    Great Depression meluluhlantakkan sendi-sendi ekonomi rakyat dan negara, termasuk perbankan. Pada tahun 1930, terjadi rush money oleh masyarakat yang telah kehilangan kepercayaannya terhadap perbankan. Rush money merupakan aksi penarikan simpanan baik berupa tabungan ataupun deposito secara besar-besaran. Hal ini mengakibatkan kacaunya aliran kas bank, sehingga bank mengalami kekurangan kas. Tahun 1933 merupakan puncak dari krisis perbankan, di mana setengah dari lembaga-lembaga perbankan di Amerika Serikat dinyatakan bangkrut dan tutup.

B.    Krisis Ekonomi, Sosial dan Kebijakan Herbert Hoover

Kepercayaan konsumen lenyap setelah jatuhnya pasar saham. Mengutip Michael Bernstein di bukunya The Great Depression: Delayed Recovery and Economic Change in America, 1929-1939 (1987) jatuhnya pasar saham menyebabkan penurunan daya beli, menyusutnya investasi, guncangan sektor industri, dan merebaknya pengangguran. Merebaknya pengangguran menyebabkan kredit macet meningkat, dan penyitaan aset melonjak.

Sementara itu, produksi negara turun. Petani tidak mampu memanen hasil ladang mereka dan terpaksa membiarkannya membusuk di ladang. Di lain sisi, jumlah tunawisma merebak di kota-kota Amerika. Tak ada harapan, sedangkan isi perut terserang kelaparan.


Kondisi perbankan juga tak jauh beda. Pada musim gugur tahun 1930, gelombang pertama melanda perbankan. Masyarakat yang kehilangan kepercayaan menarik dananya di perbankan secara besar-besaran serta memaksa bank untuk melikuidasi pinjaman guna melengkapi cadangan kas. Belum pulih seutuhnya, sapuan berikutnya terjadi pada musim semi dan gugur di tahun 1931 sampai 1932. Puncaknya, pada tahun 1933, banyak bank tutup.

Pemerintah Hoover bukannya lepas tangan. Dalam menghadapi situasi yang mengerikan itu, Hoover berupaya memberi solusi berupa dukungan kepada bank-bank lewat pinjaman pemerintah. Harapannya, setelah pinjaman diberikan bank mulai dapat beroperasi normal dan kembali mempekerjakan karyawan.

Harapan boleh diusung, realita yang berbicara lain. Bukannya memberikan perbaikan kondisi, krisis justru semakin menggeliat parah. Dalam rentang tiga tahun, jumlah pengangguran malah bertambah banyak. Gene Smiley, profesor dari Marquette University menyatakan lewat tulisannya di Library of Economics and Liberty, pada tahun 1930 angka pengangguran berada di 4 juta orang. Kemudian meningkat menjadi 6 juta pada tahun 1931 dan di tahun 1933, jumlahnya mengganas di sekitar 15 juta pengangguran.

 

C.      C. Kebijakan Franklin Delano Rooselvelt

 

Setelah Pilpres 1932, Herbert Hoover kalah dari Franklin Rooselvelt karenakan ketidak percayaan rakyat kepada Herbert Hoover untuk mengatasi The Great Depression. Franklin Delano Roosevelt yang naik menjadi presiden saat depresi berlangsung mengajukan formula solusi untuk menyembuhkan krisis dan ekses negatif lain akibat depresi, kelaparan, pengangguran, dan kemiskinan melalui kebijakan dan sejumlah program yang disebutnya sebagai New Deal. Fokus penelitian ini adalah berkisar pada upaya dan strategi presiden Roosevelt melalui program New Deal yang merupakan bentuk legitimasi carnpur tangan pemerintah dalam bidang ekonomi dan sekaligus memberi pengaruh pada relasi lembaga kekuasaan di Amerika, yang menganut doktrin trias polifika. Doktrin ini dicirikan oleh prinsip separation power melalui metode kerja yang didasarkan pada mekanisme checks and balances tapi ketika New Deal lahir, telah memberi porsi besar dan dominannya pihak eksekutif dalam pelaksanaan kekuasaannya. Menurut Roosevelt, ini hares dilakukan karena dalam realitas kehidupan masyarakat Amerika banyak ditemukan fakta bahwa sistem ekonomi yang disandarkan pada doktrin kapitalisme laissez faire selama ini malah menciptakan jurang perbedaan yang tajam di dalam struktur masyarakatnya, antara si-kaya dengan simiskin dan pemiliki modal (usahawan) dengan buruh (pekerja). Akibatnya, kapitalisme yang filosofis dasarnya berakar pada ajaran individualism, yang saat itu diterjemahkan sebagai bentuk rugged individualism (individualisme kekar). Untuk itu, kebijakan dan program New Deal ditujukan tidak saja pada usaha dan upaya penyelarnatan nasib mayoritas rakyat Amerikatapi juga diarahkan pada pemulihan dan reformasi terhadap sistem kapitalisme itu sendiri yang dinilainya gagal mensejahterakan rakyat Amerika. Hasil dari program ini, meskipun banyak kekurangan dan dinilai menyimpang dari nilai dan tradisi bangsa selama pelaksanaannya, relatif sukses dalam memecahkan masalah depresi dan krisis yang terjadi di Amerika. Tapi bila,dicennati lebih seksama maka di balik keberhasilan ini, Roosevelt sebenamya menggunakan bahasa legitimasi yang memang secara fundamental dmilikinya sebagai seorang Presiden Amerika meskipun dalam prakteknya telah memberi porsi besar dalam pergeseran pelaksanaan kekuasaan eksekutif yang lebih kuat dan sangat dominan terhadap dua cabang kekuasaan lainnya.

 

D.     Kesimpulan

Pandangan tradisional selama ini meyakini kebijakan New Deal yang digulirkan Presiden Franklin D Roosevelt (FDR) sebagai kunci keluar dari krisis dan tak sedikit yang mengaitkan pulihnya kembali ekonomi AS waktu itu dengan meletusnya Perang Dunia. Banyak studi yang menunjukkan peran PD II dan kebijakan fiskal terkait PD II sebagai faktor terpenting pemulihan ekonomi yang terjadi pada kurun 1941-1942.
Namun, tak sedikit pula studi lain yang membantah temuan ini dengan mengungkapkan bahwa sebagian besar pemulihan ekonomi sudah terjadi sejak sebelum perang meletus. Christina Romer, yang sebelumnya sempat disebut-sebut sebagai kandidat Ketua Dewan Penasihat Ekonomi Presiden Barack Obama, adalah salah satu yang menyebutkan bahwa kebijakan fiskal nyaris sama sekali tak menyumbang pada pemulihan ekonomi AS yang terjadi sebelum tahun 1942. Beberapa ekonom lain melihat peran belanja fiskal yang dilakukan FDR waktu itu lebih sebagai melapangkan jalan untuk terjadinya pemulihan ekonomi secara alamiah ketimbang sebagai motor pemulihan itu sendiri. Pandangan lain lagi yang muncul belakangan menyebutkan, pemulihan ekonomi AS dari Depresi Besar lebih didorong oleh pergeseran ekspektasi yang ditimbulkan oleh langkah kebijakan yang ditempuh FDR. Peningkatan belanja pemerintahan federal dan peningkatan defisit federal (bukan negara bagian) pada tahun 1930-an berperan besar dalam mengubah ekspektasi masyarakat mengenai arah ekonomi, dari yang semula bias deflasioner menjadi inflasioner. Ekspektasi ini yang kemudian menuntun pada turunnya suku bunga riil dan melonjaknya permintaan agregat dalam perekonomian. Sekelompok ekonom lain, termasuk Bruce Bartlett dari Forbes.com, mengatakan, Depresi Besar 1930-an baru benar-benar berakhir setelah ditempuhnya kebijakan moneter dan fiskal yang sama-sama ekspansif menjelang PD II.

 

Daftar Sumber :

http://lib.ui.ac.id/file?file=pdf/abstrak-95049.pdf

 

https://edukasi.kompas.com/read/2009/02/06/13285928/pelajaran.dari.depresi.besar?page=all.

https://www.simulasikredit.com/apa-itu-depresi-great-depression-indikator-suatu-negara-memasuki-depresi-dan-great-depression/

https://tirto.id/krisis-malaise-depresi-besar-yang-pernah-menghancurkan-amerika-cudu

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Geografis Laut Mediterania

Laut Mediterania merupakan laut yang menghubungkan antara benua Eropa, Asia, dan juga Afrika. Laut Mediterania atau yang biasa disebut sebagai Laut Tengah ini juga berhubungan dengan Samudera Atlantik dihubungkan dengan Selat Giblartar (Jabal Thariq). Oleh bangsa Roma, Laut Mediterania disebut sebagai mare nostrum (laut kita), dan laut ini juga hampir seluruhnya dikurung oleh daratan. Laut Mediterania memiliki posisi yang sangat strategis, bahkan secara politik-ekonomi Laut Mediterania menjadi posisi yang sangat penting menjadi outlet (tempat perdagangan) maritim dunia. Bila kita melihat ke arah dalam laut tersebut, menjorok jazirah-jazirah seperti Apenina, Balkan, dan Anatolia, yang sekarang merupakan wilayah Italia, Yunani, dan Turki. Karena adanya jazirah-jazirah tersebut, maka terbentuk pula laut-laut tepi dengan sendirinya, seperti Laut Adriatik, Laut Yonia, dan Laut Hitam, dalam setiap laut tersebut terdapat berbagai pulau besar dan kecil yang menjadi jembatan antar ...

Hubungan Antara Soekarno dan Buya Hamka

  Bung Karno dan Buya Hamka sudah menjalani persahabatan yang cukup lama. Persahabatan mereka juga memiliki pasang surut terkadang baik dan terkadang juga buruk. Mereka bertengkar dikarenakan perbedaan pendapat antara mereka. Hamka pernah mengunjungi Bung Karno di Bengkulu saat diasingkan ke daerah tersebut pada 1938-1942. Bung Karno dan Hamka juga pernah bertemu di beberapa acara Muhammadiyah, maklum Hamka dikenal sebagai salah satu tokoh organisasi itu, sementara Bung Karno sejak remaja memang bersinggungan dengan Muhammadiyah. Dikutip dari buku "Ensiklopedia Keislaman Bung Karno" karya Rahmat Sahid disebutkan bahwa Bung Karno acap kali mengundang sahabatnya itu untuk berceramah di Istana Negara dalam rangka memperingati hari besar keagamaan. Bahkan, Rahmat Sahid menuliskan dalam buku tersebut, Bung Karno sendiri yang mengajak Hamka untuk Hijrah dari Medan ke Ibukota Jakarta pada 1946. Ajakan itu sempat tertunda karena adanyanya Agresi Pertama pada 1947. Namun kemudi...

Luka Modric, Penentu Kemenangan Kroasia vs Polandia

Source : Pinterest Kroasia berhasil membalas 1-2 dari Portugal ketika laga pembuka UEFA Nations League beberapa hari sebelumnya. Pada matchday kedua, menghadapi timnas Polandia, Luka Modric dkk tidak menyia-nyiakan kesempatan.  Pertandingan berlangsung di Opus Arena, Osijek, pada 9 September 2024 dini hari WIB, Kroasia menang 1-0 atas Polandia. Luka Modric menjadi pahlawan Kroasia dengan mencetak gol tunggal menit ke-52.  Pada laga tersebut, Kroasia mendominasi sejak awal. Bruno Petkovic dan Igor Matanovic, menjadi penyerang, memberikan tekanan pada pertahanan Polandia.  Keseluruhan, Kroasia melakukan 22 upaya tembakan ke gawang, enam di antaranya tepat sasaran. Pada lain sisi, Polandia hanya dapat melakukan 11 tembakan, dan dua yang mengarah ke gawang. Meskipun agresif, Kroasia kesulitan mencetak gol di babak pertama.  Pertahanan solid Polandia dippimpin Lukasz Skorupski membuat tuan rumah frustasi, sehingga skor tetap imbang 0-0 hingga jeda pertandingan.  Keti...