Setelah 11 tahun Alpha Conde menjabat sebagai presiden Guinea, pada tanggal 5 September 2021 kudeta kepada rezim Alpha Conde pun terjadi. Kudeta tersebut dilakukan oleh Junta Militer. Pemimpin kudeta militer adalah Kolonel Mamadi Doumbouya, alasan dari kudeta ini adalah dengan adanya Amandemen jabatan Presiden 3 Periode yang dilakukan oleh Alpha Conde selaku presiden Guinea. Amandemen tersebut dilakukan agar Conde dapat mencalonkan kembali sebagai presdien pada pemilu 2020 di Guinea.
Melansir dari Guardian, dengan adanya amandemen ini pihak oposisi
Guinea dan juga masyarakat melakukan aksi pemboikotan dan protes dikarenakan
pemilihan umum tetap dilakukan pula padahal sedang dalam kondisi pandemi saat
ini. Massa yang didukung oleh kelompok oposisi melakukan demonstrasi agar
pemilihan umum 2020 diundur. Namun, karena kekacauan dari demonstrasi ini pihak
militer turun tangan untuk meredamkan aksi demonstrasi tersebut. Meskipun
demikian, bila melansir dari DW, Conde tidak bicara secara tegas
bahwa beliau deklarasikan diri untuk maju pada pemilihan umum 2020. Namun,
beberapa aktivis mengatakan rancangan amendemen konstitusi tersebut adalah
untuk memperpanjang masa jabatan presiden menjadi enam tahun dan juga ingin
menghapus masa jabatan presiden yang hanya dua periode saja. Conde saat itu
tidak benar – benar menyatakan ingin bahwa jabatan presiden diperpanjang, ia
juga sempat mendukung sedikit penundaan penetapan parlemen dikarenakan tanggung
jawab nasional dan regional. Dalam pidato kenegaraan Conde dalam statiun
televisi Guinea, Conde mengatakan bahwa rakyat punya pilihan untuk memungkinkan
amendemen dan perubahan komposisi parlemen.
Pada tahun 2010 adalah pemilu pertama di negara bekas jajahan Perancis ini
dikarenakan pada tahun 2008 setelah Lansana Conte meninggal dunia, Guinea
dipimpin oleh junta militer. Junta militer membentuk Dewan Transisi Nasional
yang disingkat CNT (Conseil National de Transition), CNT dapat dikatakan
sebagai badan legislatif, yang dibentuk pada Februari 2010. Tugas dari CNT
adalah merancang konstitusi baru. Akhirnya pada tahun 2010 kekuasaan junta
militer diserahkan kepada pemrintah sipil. Dan hasilnya Alpha Conde terpilih
menjadi presiden Guinea yang pertama dipilih secara demokratis. Namun
diperjalankan semua tidak sesuai dengan yang diharapkan oleh rakyat Guinea.
Letnan Kolonel Mamady Doumbouya, menyatakan bahwa pemerintahan Guinea “salah
urus”, karena alasan itu lah Doumbouya melakukan tindakan dengan mengambilalih
kekuasaan. Doumbaya mengaku bertindak hanya untuk kepentingan negara dan rakyat
di negara tersebut. “Tugas seorang tentara adalah menyelamatkan negara,” kata
Doumbouya. Menurut Doumbouya, setelah merdekanya Guinea dari penjajahan
Perancis, tidak ada kemajuan atau pergerakan di bidang ekonomi sejak 1958.
Saat awal – awal Conde menjabat sebagai presiden pada tahun 2010 rakyat Guinea
berharap semoga Conde dapat menciptakan kestabilan di Guinea, yang dimana
sebelum era Guinea telah terjadi Korupsi selama berpuluh – puluh tahun. Namun,
yang terjadi di negara yang memiliki pasokan mineral sangat besar itu adalah
presiden Conde justru memperparah kemiskinan. Terutama saat Conde mencalonkan
kembali sebagai presiden pada periode yang ketiga. Hal ini menimbukan kekacauan
ditengah masyarakat Guinea pada saat itu. David Zoumenou, konsultan peneliti
senior di Institute of Security Studies di Dakar dan Pretoria mengatakan,
“Perubahan konstitusi itu benar-benar menciptakan ketegangan yang sangat
buruk”. Karena itulah para pembangkang militer yang semula mendukung presiden
akhirnya mengambil alih menstabilkan keadaan negara tersebut.
Setelah Doumbouya, berhasil melakukan kudeta pada hari Minggu tanggal 5
September 2021 Doumbouya menangkap Presiden Guinea Alpha Conde. “Kami tidak
lagi mempercayakan politik terhadap orang – orang itu. Kami akan percaya
politik kepada rakyat. Kami datang (Melakukan kudeta) hanya untuk itu, ini
tanggung jawab kami sebagai tentara untuk menyelamatkan negara,” demikian ujar
Mamadi Doumbouya, dikutip dari CNN. Doumbouya mengatakan bahwa
akses perbatasan negara Guinea telah ditutup oleh para militer baik jalur
darat, ataupun udara. Sejumlah tembakan banyak yang dibunyikan di ibukota
Guinea, Conakry. Sejumlah pihak mengatakan bahwa itu adalah upaya untuk kudeta.
Rakyat Guinea sendiri banyak mendukung tindakan kudeta yang dilakukan oleh
militer Guinea itu sendiri dikarenakan muaknya rakyat kepada rezim Conde yang
membuat semakin tingginya angka kemiskinan di Afrika.
Salah satu masyarakat diwawancarai oleh DW mengatakan bahwa dia sangat senang
dengan pengambilalihan tersebut karena situasi yang suram di negara tersebut.
"Orang-orang sangat menderita. Tidak ada air, tidak ada listrik, bahkan
tidak ada jalan! Tidak ada jalan di Guinea, itu konyol! Kami semua bosan dengan
itu." Namun, juga terdapat warga yang kecewa dengan tindakan militer
tersebut. “sepertinya kami tidak punya tentara” kata seorang pria. Ibrahim
Kane, seorang ilmuwan politik di Open Society Foundation, mengatakan Guinea
"telah berada di mata badai" selama dua tahun. Kepada DW, dia
mengatakan bahwa sejak pemilihan tahun lalu, negara itu telah menghadapi
"kekacauan tanpa akhir."
Atas kudeta ini pastinya Sekretaris Jenderal PBB Antonio Gutertes berkomentar,
Gutertes menyerukan untuk melakukan pembebasan terhadap Alpha Conde dan
mengutuk tindakan dari militer Guinea tersebut yang dikatakannya sebagai
pengambilalihan kekuasaan secara paksa. Dalam cuitannya Antonio Gutertes
mengatakan “secara pribadi mengikuti situasi di Guinea secara cermat”. Selain Gutertes,
Ketua Serikat Farika, Presiden Republik Demokratis Kongo Felix Tshisekedi,
beserta Kepala Badan EKsekutif Serikat Afrika, mantan Perdana Menteri Chad
Moussa Faki Mahamat, mereka juga turut mengutuk tindakan kudeta yang terjadi
oleh militer ini. Sementara itu Komunitas Ekonomi Negara Afrika Bagian Barat
yang dikenal dengan mana ECOWAS juga mengutuk kudeta, presiden ECOWAS sendiri
adalah pemimpin Ghana Nana Akufo-Addo mengancam akan menjatuhkan sanksi jika
tatanan konstitusional tidak dapat dipulihkan.
Alpha Conda kini berusia 83 tahun saat menjabat presiden untuk yang ketiga
kalinya pada pemilihan presiden 2020. Oposisi mengklaim bahwa selama pemilu
2020 terjadi banyak kecurangan, yang banyak puluhan orang tewas pada protes
anti-pemerintah.
Daftar Pustaka :
https://www.dw.com/id/militer-guinea-lakukan-kudeta-tangkap-presiden-alpha-conde/a-59094616
https://awsimages.detik.net.id/community/media/visual/2021/09/06/kudeta-terjadi-di-guinea-oleh-militer-pasukan-militer-berkeliling-kota-usai-kudeta-berjalan-1_169.jpeg?w=1200
Komentar
Posting Komentar